banner 728x250

Ahyar Kepala BKPH Maria Donggomasa: Dia Bukan Penjaga Hutan, Tapi Bodyguard Cukong dan Akuntan Mafia Sonokeling Sambina’e!

BIMA, 24 Agustus 2025 || Kawah NTB – Tabir kepalsuan itu akhirnya robek. Kepala BKPH Maria Donggomasa, Ahyar, bukanlah abdi negara yang gagal, melainkan aktor utama dalam sebuah drama pengkhianatan ekologis. Bung Mhikel dari Tim Advokasi Non-Litigasi Lembaga Bantuan Hukum Peduli Rakyat Indonesia (LBH-PRI) dengan tegas menyatakan bahwa Ahyar adalah predator berseragam yang perannya lebih mirip bodyguard pribadi dan akuntan bagi mafia Sonokeling daripada seorang penjaga hutan.

“Mari kita berhenti berpura-pura dan menyebutnya dengan nama yang sebenarnya. Ahyar selaku Kepala BKPH Maria Donggomasa bukan gagal, dia berhasil. Dia berhasil menjalankan peran gandanya dengan sempurna: di satu sisi memakai seragam negara, di sisi lain menjadi buku kas berjalan bagi para penjarah hutan,” ujar Bung Mhikel dengan nada geram, Minggu (24/8).

Berdasarkan informasi yangditerima LBH-PRI, Ahyar diduga kuat secara rutin menerima setoran dari bos besar mafia ilegal logging Sonokeling yang beroperasi di Sambina’e. Aliran dana haram inilah yang menjadi pelumas bagi mesin perusak hutan untuk terus beroperasi tanpa tersentuh.

“Ini adalah simbiosis mutualisme paling busuk. Mafia mendapat perlindungan, Ahyar diduga kuat mendapat setoran. Rakyat dapat apa? Bencana ekologis dan dongeng tentang penegakan hukum,” tegas Mhikel.

Drama Tak Ada Biaya Sita: Logika Akrobatik Seorang Pelindung Mafia

Salah satu argumen paling absurd yang dilontarkan terkait barang bukti Sonokeling di Sambina’e yang tak kunjung diangkut adalah dalih klasik: “tidak ada biaya penyitaan”. LBH-PRI memandang alasan ini bukan hanya sebagai kebohongan, tetapi juga penghinaan telak terhadap akal sehat publik.

“Logika dari mana seorang penjaga keamanan negara mengeluh tidak punya biaya untuk mengamankan barang bukti kejahatan raksasa? Itu sama saja dengan seorang jenderal perang menyatakan tidak bisa melawan musuh karena harga pelurunya mahal,” sindir Mhikel.

Menurutnya, alasan sebenarnya jauh lebih busuk dari sekadar masalah anggaran. “Barang bukti itu tidak diangkut bukan karena tidak ada truk, tapi karena dilindungi. Sonokeling itu adalah aset berharga milik ‘Bos Besar’ dari Bali yang rutin ‘berdonasi’ kepada Ahyar. Mengangkutnya sama saja dengan menyita properti majikan. Tentu saja sang ‘bodyguard’ tidak akan berani melakukannya. Dalih anggaran itu hanya kamuflase murahan untuk menutupi loyalitasnya pada cukong.”

Predator Berseragam: Tajam pada Nenek, Tumpul pada Cukong

Watak asli Ahyar, menurut LBH-PRI, terlihat dari standar gandanya yang brutal. Ia menjelma menjadi singa ganas di hadapan rakyat kecil yang mungkin hanya mengambil beberapa potong kayu untuk bertahan hidup, namun berubah menjadi kucing manis di hadapan para mafia berduit.

“Lihat saja rekam jejaknya. Kalau ada nenek-nenek bawa ranting, hukum ditegakkan setegak-tegaknya. Tapi ketika pabrik mafia beroperasi 24 jam di depan hidungnya, dia mendadak buta, tuli, dan amnesia. Hukum di tangannya adalah pisau: tajam ke bawah untuk menindas rakyat, tapi tumpul ke atas untuk melindungi para penyetornya,” ungkap Mhikel.

Sikap ini menunjukkan bahwa Ahyar tidak lagi bekerja untuk negara atau rakyat, melainkan untuk kepentingan perutnya sendiri dan para bos di belakang layar. Dia telah mengubah institusi negara menjadi gerbang tol pribadi, di mana hanya mereka yang membayar yang boleh lewat dengan aman.

Gubernur NTB, Waktu Sandiwara Telah Habis!

LBH-PRI mendesak Gubernur NTB untuk segera mengakhiri sandiwara birokrasi ini. Mempertahankan Ahyar sedetik lebih lama di posisinya sama dengan merestui penghancuran hutan Bima dan melegitimasi praktik mafia di tubuh pemerintahan.

“Gubernur tidak perlu lagi tim investigasi atau rapat bertele-tele. Buktinya sudah lebih terang dari matahari di siang bolong. PECAT AHYAR SEKARANG JUGA! Seret dia ke pemeriksaan aparat penegak hukum, telusuri aliran dananya, dan bongkar jaringannya sampai ke akar,” seru Mhikel.

“Diamnya Gubernur adalah melodi pengiring kematian hutan Sonokeling. Pecat Ahyar, atau rakyat akan mencatat Gubernur sebagai dirigen dari orkestra perusakan ini. Pilihan ada di tangan Anda, dan sejarah akan menjadi hakimnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *