Bima, 28 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Sebuah requiem pembangunan tengah menggema di Kabupaten Bima. Langit yang dulu biru oleh janji “Perubahan,” kini kelabu oleh kenyataan pahit. Memasuki bulan kelima kepemimpinan nahkoda baru, Ady-Irfan, sebuah angka menjelma menjadi aib yang tak terbantahkan: realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) tertatih di 1,85%. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah vonis kegagalan dini yang menampar nurani dan mengkhianati amanah rakyat.
Di arena pacu pembangunan Nusa Tenggara Barat, Bima tak lagi berlari, bahkan tak sanggup merangkak. Ia terseok-seok, nyaris pingsan di garis start. Sementara kabupaten tetangga, Dompu, melesat dengan 30,86% dan Kota Bima gagah perkasa di 32,20%, kita justru terpuruk dalam kubangan nestapa di bawah 2%. Ini bukan lagi soal kecepatan, ini adalah soal martabat yang dipertaruhkan.
“Perubahan” yang Mundur, “Bermartabat” yang Tergadai
Lima bulan. Waktu yang lebih dari cukup untuk menancapkan tiang pancang pertama sebuah era baru. Namun, apa yang kita saksikan? Slogan “Perubahan dan Bima Bermartabat” yang dulu menggetarkan panggung kampanye, kini terdengar laksana parodi paling getir. “Perubahan” yang dijanjikan ternyata adalah perubahan ke arah kemunduran. “Bima Bermartabat” seolah hanya bersemayam di atas spanduk-spanduk usang, sementara martabat ekonomi daerah terkapar tak berdaya.
Janji kemandirian fiskal dan kesejahteraan kini laksana gema di ruang hampa. Kursi panas bupati yang seharusnya menjadi tungku untuk menempa kemajuan, justru menjadi singgasana es yang melahirkan kebekuan kebijakan. Kita diajak bermimpi tentang panen raya, namun setelah lima bulan, benihnya pun tak kunjung ditanam. Ironisnya, rumput liar di pekarangan tetangga tampak jauh lebih subur dan hijau.
“Selasa Menyapa”: Ritual Simbolik di Tengah Krisis Fiskal?
Di tengah rapor merah PAD yang memilukan, panggung hiburan politik tetap berjalan. Setiap Selasa, kita disuguhi ritual “Selasa Menyapa,” di mana para pemimpin turun menyapa warga. Sebuah gestur yang indah dalam bingkai citra, namun menjadi pertanyaan sinis di tengah realita.
Ketika pundi-pundi daerah nyaris kosong, apakah sapaan hangat bisa membayar tagihan pembangunan? Ketika denyut nadi fiskal melemah, apakah jabat tangan mampu membangun jembatan atau memperbaiki sekolah yang reyot? Rakyat tidak butuh sekadar pemimpin yang pandai menyapa, tetapi pemimpin yang cakap bekerja; yang tak hanya mendengar keluh kesah, tapi mampu mengubahnya menjadi solusi nyata yang mengisi kas daerah. Tanpa itu, “Selasa Menyapa” hanyalah simbolisme hampa sebuah upacara meriah di atas kapal yang sedang karam.
Tirani Dalih “Proses” dan Ilusi Kemajuan
Dan ketika semua kegagalan ini ditelanjangi di hadapan publik, jurus pamungkas pun dikeluarkan: “Sabar, ini semua butuh proses!”
Mari kita bedah kata sakti ini. “Proses” macam apa yang membiarkan daerah lain berlari kencang meninggalkan kita dalam debu keterpurukan? Bayangkan Anda di sebuah restoran, meja di sebelah Anda sudah menikmati hidangan penutup, sementara pesanan Anda bahkan belum dicatat oleh pelayan, yang hanya berbisik, “Sabar ya, ini proses.” Apakah kesabaran itu akan mengenyangkan perut yang keroncongan?
Proses tanpa progres adalah ilusi. Proses tanpa hasil adalah pengkhianatan terhadap amanah. PAD adalah darah kehidupan pembangunan. Tanpanya, jalan akan tetap berlubang, fasilitas kesehatan akan terengah-engah, dan mimpi anak-anak Bima akan masa depan yang lebih baik akan selamanya terkunci dalam angan.
Kepada Bupati Ady-Irfan dan Wakil Bupati Irfan, waktu untuk retorika dan basa-basi telah usai. Lima bulan adalah lonceng peringatan yang sudah berdentang terlalu nyaring. Rakyat Bima tidak lagi butuh dongeng “proses.” Rakyat menagih manifestasi nyata dari “Perubahan dan Bima Bermartabat.”
Segera bangun dari tidur lelap kebijakan ini, atau saksikanlah bagaimana slogan yang Anda banggakan itu terkubur selamanya di bawah nisan kekecewaan. Atau haruskah Bima merelakan ‘martabat’-nya hanya seharga 1,85%?








































