Makassar, 19 Juni 2025 || Kanal Aspirasi Dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb
Oleh: D
Mereka bilang aku terlalu lantang. Terlalu kritis. Terlalu marah. Padahal aku hanya sedang jujur.
Dunia lebih nyaman dengan perempuan yang sabar dan anggun. Jika tidak disuruh diam, ia diminta tersenyum. Seakan keberadaan kami harus selalu menyenangkan, tidak mengganggu, tidak mempertanyakan.
Sayangnya, aku tidak tumbuh menjadi perempuan yang lembut. Aku tumbuh menjadi perempuan yang bertanya tanpa henti. Mengapa perempuan selalu harus meminta maaf, bahkan ketika ia disakiti? Mengapa dunia lebih memilih perempuan yang tenang, bukan yang memahami?
Aku ingin marah tanpa disebut emosional.
Aku ingin diam tanpa dicurigai.
Aku ingin bicara tanpa dianggap ingin berkuasa.
Aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku seperti ini. Aku tahu: aku bukan terlalu keras. Aku hanya hidup di dunia yang terlalu nyaman dengan kepalsuan.
Jadi kalau aku marah, biarkan!
Marah bukan kelemahan. Marah adalah bukti kepedulian.
Kalau aku terlalu kritis, biarkan!
Kritik bukan penolakan terhadap harapan. Kritik menjaga agar harapan tak berubah menjadi khayalan.
Kalau aku terlalu jujur, biarkan!
Aku sudah cukup lama diam. Cukup lama menyembunyikan sisi-sisi liar dalam diriku hanya karena takut dianggap berlebihan.
Aku tidak akan meminta maaf karena menjadi jujur.
Izinkan aku mengungkapkan satu kata bijak dari seorang ahli Psikolog Individualis bernama Alfred Adler dia bilang “jika kita hidup untuk menjadi alat pemuas nafsu bagi orang lain berarti kita berada dalam situasi krisis identitas atas keotentikan diri dan kita akan terus-menerus mengejar pengakuan dari orang lain”.
Aku tidak diciptakan untuk menyenangkan semua orang.
Aku tidak ingin hidup menjadi alat pemuas birahi orang lain, soal mereka menyukai ku atau tidak itu urusan mereka dan itu berada di luar kendaliku.
Aku tidak hidup untuk ditertawakan karena memilih bersuara.
Dan aku tidak akan berubah hanya supaya dunia merasa nyaman di atas luka-luka yang kutelan diam-diam.
Karena aku tahu:
Lembut bukan berarti harus tunduk.
Sopan bukan berarti harus bungkam.
Kuat bukan berarti kehilangan kasih.
Aku berdiri di antara luka dan harapan
dengan suara yang serak tapi tetap lantang.
Dengan hati yang lelah tapi tak pernah padam.
Dengan keyakinan bahwa keadilan tak akan datang kepada mereka yang duduk manis menanti.
Jadi kalau aku tidak cocok dengan harapan dunia,
mungkin memang dunia ini yang perlu dibenahi, bukan aku.








































