Bima, 24 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Di tengah gemuruh pidato tentang “Bima Bermartabat” dan “Perubahan” yang menggelegar dari podium, realitas di Lambitu adalah sebuah tamparan keras. Selama dua dekade, masyarakat Lambitu terperangkap dalam belenggu jalan rusak parah, sebuah kondisi yang bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan malapetaka yang merenggut hak dasar mereka untuk hidup bermartabat.
Sungguh memilukan menyaksikan Bupati Bima yang terhormat seolah sibuk menggelar pertunjukan pantomim akbar. Pidato-pidato tentang “Perubahan” terus digaungkan, namun jeritan pilu masyarakat Lambitu yang bergulat dengan jalanan lumpur dan bebatuan tak sedikit pun menyentuh hati sang pemimpin.
Ingatkah Anda, Bapak Bupati, bahwa sebuah surat resmi permohonan audiensi dari Aliansi Pemuda Peduli Lambitu (APPL) bersama Lembaga Bantuan Hukum Peduli Rakyat Indonesia (LBHPRI) telah mendarat anggun di meja hijau Kantor Anda sejak 14 Juli 2025? Surat itu seharusnya menjadi alarm bahaya, sinyal darurat dari rakyat yang butuh pertolongan. Namun, hingga hari ini, 24 Juli 2025, sepuluh hari kemudian, kantor Anda tetap menjadi benteng yang tak tertembus. Pintu-pintu tertutup rapat, seolah-olah suara penderitaan masyarakat Lambitu adalah melodi sumbang yang tak pantas didengar oleh telinga-telinga “terhormat” di puncak kekuasaan.
Ironisnya, setiap kali upaya untuk menanyakan kepastian audiensi dilakukan, jawaban klise “Selasa Menyapa” selalu menjadi tameng. Sebuah alasan yang menunjukkan bahwa slogan dan pencitraan lebih diutamakan daripada empati dan tindakan nyata. Ini bukan lagi soal birokrasi yang lambat, Bapak Bupati. Ini adalah kegagalan kepemimpinan yang nyata dan transparan.
Anda adalah nahkoda kapal pembangunan Kabupaten Bima. Lalu, mengapa Anda membiarkan salah satu bagian penting dari kapal itu Lambitu karam dalam lautan lumpur dan bebatuan? Apakah Anda terlalu sibuk menikmati pemandangan dari geladak atas, tanpa peduli bahwa ruang mesin di bawah sana sedang hancur lebur? Atau jangan-jangan, pemahaman Anda tentang “martabat” hanya berlaku di lingkungan ber-AC, bukan di jalanan becek yang mengoyak sepatu warga?
Masyarakat Lambitu tidak meminta fasilitas mewah atau karpet merah. Mereka hanya menuntut hak dasar mereka untuk memiliki akses jalan yang layak, sebuah pondasi minimal bagi kehidupan yang bermartabat. Jalan-jalan yang rusak itu bukan sekadar masalah teknis; ia adalah urat nadi kehidupan yang telah Anda biarkan putus.
Bayangkan, Bapak Bupati, setiap hari anak-anak Lambitu harus berjuang menembus lumpur demi mencapai sekolah, masa depan mereka terancam karena akses pendidikan yang sulit. Pasien-pasien kritis sulit mengakses rumah sakit, nyawa mereka dipertaruhkan di setiap tikungan jalan yang hancur. Petani merugi besar karena hasil panennya rusak di perjalanan, mata pencarian mereka terancam, dan ekonomi lokal lumpuh. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sedang berlangsung di bawah kepemimpinan Anda. Sebuah drama nyata yang setiap hari diputar di hadapan mata Anda, namun entah mengapa, Anda memilih untuk memejamkan mata.
Apakah Anda lupa sumpah jabatan Anda, Bapak Bupati? Atau Anda menganggap bahwa Lambitu memang layak menjadi “anak haram pembangunan” yang tak perlu perhatian, tak perlu diurus? Sebuah daerah yang dibiarkan terpinggirkan dan hancur, sementara Anda terus beretorika tentang kemajuan dan martabat. Ini adalah ironi yang memilukan, sebuah noda hitam yang akan tercatat dalam sejarah kepemimpinan Anda. Seolah-olah, Lambitu ini hanya angka statistik di laporan, bukan denyut nadi kehidupan ribuan jiwa yang merindukan uluran tangan.
Maka, kepada Bapak Bupati Bima yang terhormat, dengarkan bisikan kami yang setajam silet ini: Lambitu bukan hanya sekadar nama desa di peta. Ia adalah cermin dari kinerja Anda, monumen kebisuan yang akan terus berteriak tentang janji-janji kosong. Setiap lubang di jalan Lambitu adalah tanda tanya besar atas komitmen Anda. Setiap tetes air mata warga yang terjebak di kubangan lumpur adalah dakwaan atas ketidakpedulian Anda.
Sudahlah, cukupkan sandiwara ini. Saatnya beraksi, bukan hanya berjanji. Buktikan bahwa “Bima Bermartabat” itu berlaku untuk semua, termasuk Lambitu yang selama ini Anda tinggalkan, sebelum sejarah mencatat Anda sebagai pemimpin yang gagap dalam merangkai realitas dengan retorika.
Apakah Anda akan terus membiarkan Lambitu karam, atau Anda akan bangkit menjadi nahkoda yang benar-benar memimpin, bukan sekadar beretorika?








































