banner 728x250

Dari Janji Aman-Aman Saja Hingga Sayatan Amputasi, Derita Arumi Berlanjut di RSUD Bima

BIMA, 12 Agustus || Kawah NTB – Rujukan yang seharusnya menjadi pelabuhan harapan, justru berubah menjadi babak baru penderitaan bagi Arumi dan ibunya, Marlina. Setelah lolos dari dugaan kelalaian di Puskesmas Bolo, perjuangan mereka untuk mencari kesembuhan di RSUD Bima kembali menabrak dinding dinginnya pengabaian, sebuah kisah yang berujung pada vonis amputasi yang memilukan.

Perjalanan pilu ini berlanjut pada 15 April. Sekitar pukul 20.00 WITA, Arumi tiba di IGD RSUD Bima, dibawa dengan secercah harapan setelah tangan kanannya bengkak hebat. Namun, harapan itu mulai meredup saat malam semakin larut. Sekitar pukul 23.00 WITA, naluri Marlina kembali menjerit. Ia melihat jari-jari mungil anaknya sudah tak lagi bergerak dan segera melaporkannya kepada dokter jaga.

Respons yang diterima seolah menyepelekan ketakutan seorang ibu. Tanpa melakukan pemeriksaan fisik, sang dokter diduga hanya berkata ringan bahwa itu sekadar “peradangan” yang “akan kempes setelah diberi obat.” Janji manis pun diucapkan, “tidak perlu operasi, hanya penyedotan.” Ketika Marlina, dengan hati yang hancur, menyuarakan ketakutan terbesarnya akan amputasi, seorang perawat IGD justru menimpali dengan kalimat yang menusuk, “Tidak usah terlalu tinggi pemikirannya bu, tidak usah terlalu overthinking.”

Dokter jaga kembali meyakinkan bahwa tangan Arumi “aman-aman saja,” tak akan dioperasi apalagi diamputasi. Bahkan saat Marlina melaporkan anaknya gelisah dan kesakitan, jawaban yang didapat semakin menenggelamkan harapannya. “Bu, selama anak ibu tidak menangis histeris, berarti anak ibu akan baik-baik saja,” ujar sang dokter. Malam itu, Arumi melewati malam yang panjang dalam kesakitan, demam tinggi, dan mual, tanpa ada satu pun dokter yang datang memeriksa tangannya yang kian rapuh.

Fajar pada 16 April tidak membawa kelegaan. Puncaknya terjadi sekitar pukul 12.30 WITA. Melihat kondisi Arumi yang semakin lemah, tangis Marlina pecah tak tertahankan. Histerianya seolah menjadi lonceng darurat yang akhirnya menyadarkan seisi ruangan. Kepanikan melanda para dokter dan perawat. Dokter spesialis bedah akhirnya datang memeriksa, dan diagnosisnya bagai petir di siang bolong: kondisi Arumi sangat parah, ia menderita sindrom kompartemen dan harus segera dioperasi.

Operasi darurat dilakukan sekitar pukul 14.00 WITA. Hasilnya, sebuah sayatan besar menganga dari jemari hingga pergelangan tangan kanan Arumi, sebuah upaya putus asa untuk menyelamatkan apa yang tersisa. Ironisnya, setelah operasi, Arumi yang belum sadarkan diri justru ditempatkan di ruang perawatan bedah dewasa, dengan luka terbuka yang terus mengalirkan darah. Penderitaannya memuncak saat ia mengalami kejang pada dini hari.

Pada 17 April, ia dipindahkan ke ICU, di mana operasi pelebaran sayatan kembali dilakukan dengan bius lokal. Namun, semua sudah terlambat. Pada 18 April, dengan kondisi yang terus memburuk, Arumi dirujuk ke RSUP Mataram. Di sanalah vonis terakhir dijatuhkan: jari-jari tangan kanannya tak bisa lagi diselamatkan. Risiko infeksi yang menyebar memaksa dokter menyarankan amputasi.

Pada tanggal 12 Mei, di bawah lampu operasi RSUP Mataram, palu godam itu akhirnya jatuh. Telapak dan jari-jari tangan kanan Arumi diamputasi. Yang tersisa kini bukan hanya luka fisik permanen pada seorang balita, tetapi juga luka abadi di hati seorang ibu yang jeritannya dua kali diabaikan, yang kepercayaannya direnggut oleh janji “aman-aman saja.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *