banner 728x250

Dosa Sonokeling di Sambinae Cuma Punya 1 Jawaban: PECAT dan PENJARAKAN Ahyar Kepala BKPH Maria Donggomasa

BIMA, 17 Agustus 2025 || Kawah NTB – Publik Kota Bima kini tengah disuguhi sebuah pertunjukan komedi birokrasi yang tragis, dengan aktor utamanya adalah Kepala BKPH Maria Donggo Masa, Ahyar, S.Hut, M.Ling. Alih-alih memberantas kejahatan, Ahyar justru tampil sebagai seorang maestro alibi, yang dengan lihainya menciptakan dalih-dalih absurd untuk membenarkan pembiaran pabrik sonokeling ilegal yang beroperasi pongah di jantung kota, Kelurahan Sambina’e.

Namun, publik tidak tertawa. Pertunjukan memuakkan ini telah melahirkan satu tuntutan yang tak bisa ditawar: Ahyar harus segera diproses secara hukum dan dicopot dari jabatannya.

Fase I: Opera ‘Si Buta dari Kantor Kehutanan’

Pada babak pertama, Ahyar meluncurkan strategi paling primitif: pura-pura buta. Klaimnya yang menyatakan “tidak tahu-menahu” adalah sebuah lelucon yang menghina akal sehat. Bagaimana mungkin seorang Kepala BKPH, yang seharusnya memiliki mata setajam elang, bisa melewatkan sebuah pabrik pengolahan kayu ilegal berskala besar yang beroperasi di tengah keramaian kota, bukan di pedalaman hutan Amazon? Bahkan seorang kurir paket pun tahu ada aktivitas di sana. Kegagalan strategi ini begitu telak, memperlihatkan Ahyar sebagai sosok yang inkompeten atau, lebih buruk lagi, seorang pembohong.

Fase II: Drama Musikal ‘Kantong Kosong di Tengah Harta Karun’

Ketika opera kebutaannya gagal total, Ahyar beralih ke skenario yang lebih licik: memainkan peran sebagai korban sistem. Dengan dalih “tidak ada anggaran untuk penyitaan,” ia mencoba mengubah dirinya dari pejabat yang lalai menjadi pahlawan tragis yang lumpuh karena birokrasi. Sebuah narasi menyedihkan yang dirancangnya sendiri.

Namun, topeng ini disobek dengan telak oleh Direktur LBH-PRI, Imam Muhajir, S.H., M.H. “Ini akal-akalan! Tugas pokoknya adalah menghentikan kejahatan dengan memasang garis polisi kehutanan dan menyegel pabrik. Itu tidak butuh tender miliaran!” tegasnya. “Dalih tidak ada dana angkut hanyalah alasan busuk untuk membenarkan pembiaran yang sudah terjadi.”

Kejahatan Sebenarnya: Pembiaran Adalah Persengkongkolan

Mari kita berhenti berpura-pura. Masalahnya bukan pada “ketidaktahuan” atau “ketiadaan anggaran”. Kejahatan sesungguhnya yang dilakukan Ahyar adalah PEMBIARAN. Membiarkan sebuah pabrik ilegal menjarah sonokeling di tengah kota bukanlah kelalaian, itu adalah sebuah fasilitas. Itu adalah lampu hijau bagi para penjahat untuk terus merusak.

Pertanyaan yang harus diusut Kejaksaan sangat sederhana: Kepentingan apa yang dilindungi Ahyar dengan membiarkan pabrik itu beroperasi? Siapa yang diuntungkan dari kelumpuhan mendadak seorang Kepala BKPH?

Panggung Sudah Usai, Saatnya Tirai Penjara Dibuka

Pertunjukan Ahyar sudah berakhir. Publik sudah muak dengan drama dan alibinya. Kini saatnya penegak hukum mengambil alih panggung. Sudah cukup Kota Bima dijadikan ladang subur bagi para penjahat lingkungan yang dilindungi oleh pejabat pengecut.

Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi atau dalih baru. Hanya ada dua babak akhir yang dituntut oleh rakyat:

Copot jabatannya sebagai aib bagi institusi kehutanan.

Proses hukum dia sebagai penjahat yang telah membiarkan perusakan alam terjadi di depan matanya.

Negara harus membuktikan bahwa hukum lebih kuat dari sandiwara seorang pejabat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *