BIMA 17 Agustus 2025 || Kawah NTB – Seorang oknum Polisi Kehutanan (Polhut) yang bertugas di Kecamatan Wera, yang diidentifikasi bernama Wahyoni alias Yonif, diduga melakukan upaya pemerasan terhadap sekelompok warga. Peristiwa ini terjadi di kawasan Gunung Sangiang pada Agustus 2024 lalu.
Menurut kronologi yang dihimpun, insiden bermula ketika tim Polhut yang dipimpin oleh Wahyoni menemukan delapan ekor rusa yang telah mati di tangan sekelompok warga yang dipimpin oleh seorang pria bernama Hendra.
Alih-alih memproses temuan tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku, Wahyoni diduga langsung meminta sejumlah uang untuk menyelesaikan masalah.
“Nda usah dibicarakan lagi soal daging rusak 8 ekor ini. Masalah sudah selesai. Tinggal kalian iyakan saja perkataan dari kami polhut dan yang penting kalian kasih uang 25 juta ke kami, selesai urusan,” ujar Wahyoni seperti ditirukan oleh Hendra.
Hendra menolak permintaan tersebut dan menyarankan agar permasalahan ini diselesaikan secara hukum melalui pihak kepolisian. Namun, Wahyoni bersikeras dan mengancam akan membawa mereka ke kantor polisi, yang justru membuat beberapa rekan Hendra ketakutan.
Negosiasi alot pun terjadi. Wahyoni bahkan merinci perhitungannya untuk menjustifikasi permintaan uang tersebut. “Satu ekor (rusa) 3 juta. Jadi 8 ekor, total 24 juta. Tapi kita bulatkan jadi 25 juta, untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.
Meski terus ditolak oleh Hendra yang bersikukuh untuk menempuh jalur hukum, pihak oknum Polhut tidak menyerah. Perseteruan ini berlangsung sejak pagi hingga malam hari. Situasi memuncak sekitar pukul 20.00 WITA, ketika salah satu anggota tim Wahyoni melepaskan tembakan ke udara yang diduga sebagai bentuk intimidasi.
Sekitar pukul 21.00 WITA, Hendra dan rekan-rekannya dibawa oleh tim Polhut yang terdiri dari Punti, Amar, dan Wahyoni ke tepi laut. Di lokasi tersebut, mereka kembali dipaksa untuk menyerahkan uang sebesar Rp25 juta. Pihak oknum Polhut bahkan menyarankan agar uang diserahkan di kemudian hari melalui seorang perantara bernama Junaidin, namun Hendra dan rekan-rekannya tetap menolak.
Di tengah ketegangan, madu milik kelompok Hendra dilaporkan hilang, diduga diambil oleh oknum Polhut. Tak lama kemudian, seorang anggota Kepolisian (Polri) datang ke lokasi dan mencoba menenangkan situasi.
“Nda usah dengarkan perkataan Polhut itu. Kembali saja ke camp kalian untuk masak, makan, dan minum. Mereka datang hanya mencari uang rokok saja itu,” kata polisi tersebut kepada Hendra dan rekan-rekannya.
Anggota polisi itu kemudian memberitahukan bahwa madu dan delapan ekor rusa tersebut telah disita. Namun, atas dasar kemanusiaan, ia mengizinkan Hendra untuk mengambil sedikit daging dan jeroan rusa untuk kebutuhan makan malam itu. Izin ini sempat mendapat teguran dari salah satu oknum Polhut yang berada di lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai tindak lanjut dari insiden dugaan pemerasan dan intimidasi yang dialami oleh Hendra dan rekan-rekannya.























