BIMA, 1 Oktober 2025 || Kawah NTB – Jangan salah baca. Laporan polisi yang dilayangkan Wakil Ketua I DPRD Bima, Muhammad Erwin, terhadap aktivis Muhlis Plano bukanlah sekadar kasus hukum. Ini adalah deklarasi perang terbuka terhadap nalar kritis di seluruh Kabupaten Bima. Sebuah pesan teror yang dikirimkan dari menara gading kekuasaan kepada setiap warga: “BERHENTI BERPIKIR, ATAU ANDA BERIKUTNYA!”
Korban sesungguhnya dari manuver pengecut ini bukanlah Muhlis seorang. Korbannya adalah Anda mahasiswa yang berdiskusi di warung kopi, petani yang mengeluh di media sosial, ibu rumah tangga yang berani bertanya kemana uang kami?, dan setiap warga Bima yang masih percaya bahwa pejabat publik seharusnya melayani, bukan dilayani.
Erwin sedang mempraktekkan sebuah taktik usang dari rezim-rezim paling tiran dalam sejarah gunakan aparat hukum untuk meneror mereka yang berani berpikir. UU ITE, di tangannya, berubah dari payung hukum menjadi pentungan untuk memukul kepala siapa saja yang berani mendongak. Ia tidak sedang membela nama baiknya; ia sedang membangun tembok penjara bagi kebebasan berpendapat.
Logikanya Brutal dan Sederhana: Jika satu suara lantang seperti Muhlis Plano bisa diseret ke kantor polisi, maka ribuan suara lain yang lebih pelan akan dipaksa menelan kembali kata-katanya karena takut. Inilah tujuan utamanya: menciptakan “Efek Getar” (chilling effect), sebuah wabah ketakutan yang melumpuhkan keberanian publik untuk mengawasi kekuasaan.
Publik kini dipaksa bertanya dengan lebih lantang. Apa yang sebenarnya Anda sembunyikan, Bapak Erwin? Mengapa kritik soal dugaan gratifikasi P3K dan nepotisme adik kandung Anda tidak dijawab dengan transparansi, melainkan dengan ancaman pidana? Apakah karena kebenaran dari kritik itu terlalu menyakitkan untuk diakui, sehingga satu-satunya jalan keluar adalah membunuh pembawa pesannya?
Langkah Erwin ini adalah sinyal paling berbahaya bagi masa depan Bima. Ia sedang mengajarkan kepada seluruh pejabat bahwa cara terbaik menghadapi kontrol sosial adalah dengan kriminalisasi. Ia sedang meracuni sumur demokrasi, berharap semua orang ikut mati kehausan akan kebenaran.
Ini adalah alarm darurat bagi demokrasi Bima. Pembungkaman satu suara kritis adalah latihan untuk membungkam seribu suara lainnya. Jika hari ini kita diam saat Muhlis Plano diintimidasi, maka jangan kaget jika besok, giliran pintu rumah kita yang diketuk hanya karena sebuah status Facebook atau komentar kritis di media sosial lainnya.
Diam saat nalar kritis diburu adalah bentuk bunuh diri massal. Melawan adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup sebagai warga negara merdeka. Api telah disulut oleh Erwin, dan kini seluruh rakyat Bima harus memilih: menjadi bahan bakar bagi tirani, atau menjadi air yang memadamkannya.























