banner 728x250

Gencatan Senjata Netanyahu Adalah Pengakuan atas Kekuatan Iran

Bima, 24 Juni 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Advokat dan pengamat hukum internasional Imam Muhajir, SH, MH menilai bahwa keputusan Israel untuk menyepakati gencatan senjata dengan Iran bukan hanya kegagalan narasi koersif, tetapi juga pengakuan diam-diam atas kekuatan riil Iran di kawasan.

“Dalam politik internasional, narasi memang penting. Tapi narasi hanya bertahan jika ditopang oleh kekuatan. Dan hari ini, Iran membuktikan bahwa mereka punya keduanya,” ujar Imam dalam pernyataan analisisnya.

Imam menyoroti bahwa Iran bukan hanya bertahan secara simbolik, tetapi juga secara struktural. “Infrastruktur militer Iran tetap utuh. Jaringan proksi mereka di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman tetap aktif. Ini bukan sekadar bertahan ini adalah kemampuan untuk tetap mengancam dan mempengaruhi,” tegasnya.

Menurut data Global Firepower 2024, Iran memiliki lebih dari 600.000 personel militer aktif dan cadangan, serta program rudal balistik terbesar di Timur Tengah “Israel mungkin unggul dalam teknologi udara, tapi Iran unggul dalam daya tahan dan strategi asimetris. Dan itu yang membuat mereka sulit ditaklukkan,” tambah Imam.

Imam menilai bahwa keputusan Netanyahu untuk menghentikan operasi militer tanpa syarat penyerahan dari Iran adalah bentuk pengakuan terhadap daya tahan strategis Teheran. “Ini bukan sekadar kompromi politik. Ini adalah pengakuan bahwa Iran tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan militer konvensional,” katanya.

Lebih jauh, Imam menyebut bahwa keberhasilan Iran bertahan dari tekanan militer dua kekuatan besar Israel dan AS memberi inspirasi bagi negara-negara Global South. “Iran kini menjadi simbol bahwa kekuatan tidak selalu datang dari superioritas teknologi, tapi dari konsistensi, ketahanan, dan keberanian untuk menolak tunduk,” ujarnya.

“Dalam dunia yang diatur oleh kekuatan, narasi hanya akan didengar jika dibarengi dengan kapasitas nyata untuk bertahan dan mempengaruhi. Dan hari ini, Iran telah membuktikan bahwa mereka punya keduanya. Netanyahu mungkin mengakhiri perang, tapi Iran memenangkan pengaruh,” pungkas Imam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *