Bima, 12 Juni 2025 || Kanal Aspirasi Dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Malam takbiran yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi tragedi bagi Sahrul Ajwari, seorang remaja asal Desa Soki. Ia dikabarkan meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas pada 6 Januari 2025 sekitar pukul 00:30 WITA. Namun, kesaksian dari teman boncengnya, inisial R, mengungkap dugaan lain yang mengarah pada aksi pengeroyokan brutal hingga korban meninggal dunia oleh sekelompok orang di Desa Lido.
##Kesaksian Inisial R: Teror di Tengah Malam Lebaran##
Menurut R, sebelum kejadian tragis itu, mereka sempat dihentikan oleh sekelompok orang tepat di depan masjid. Merasa terancam, Sahrul memilih untuk mempercepat laju kendaraannya agar bisa menjauh dari mereka. Namun, di saat bersamaan, R mendengar suara mereka yang berkomunikasi satu sama lain, seolah mengatur strategi untuk menghadang mereka di depan.
Tak lama setelah itu, mereka benar-benar dihadang kembali oleh kelompok kedua. R menyatakan bahwa Sahrul langsung menjadi target serangan. Ia dipukul menggunakan batu, sementara R sendiri mengalami pemukulan menggunakan jaket dan sarung, yang membuat kepalanya tertutup dan tak bisa melihat jelas wajah para pelaku.
##Kesaksian Inisial E: Keberadaan Kelompok Orang di Lokasi Kejadian##
Pengakuan lain datang dari seorang saksi, inisial E, yang pada pukul 22:00 WITA sedang pulang dari Rabakodo bersama adik perempuannya. Mereka melihat sekelompok orang duduk di serambi depan masjid Desa Lido, salah satu dari mereka bahkan sempat mengintip keberadaan E dan adiknya saat mereka singgah membeli burger.
E mengingat salah satu dari mereka memiliki ciri-ciri fisik yang mencolok: bertubuh kurus, tinggi, mengenakan celana pendek, berkulit kuning langsat, serta mengendarai motor Vario hitam. Meskipun E tidak bisa memastikan apakah orang tersebut terlibat dalam insiden atas kematian Sahrul, kesaksiannya memperkuat bukti bahwa memang ada kumpulan orang yang berkumpul di lokasi awal tempat korban pertama kali dihentikan.
##Kesaksian Tambahan: Kejanggalan Narasi “Kecelakaan Murni##
Keterangan saksi yang lainnya lagi dengan inisial S dia mengatakan kalau ia pulang sekitar tengah malam atau sekitar jam setengah 12 malam, turut memperkuat dugaan tersebut. Ia juga melihat sekelompok orang sedang nongkrong di depan masjid Desa Lido, tanpa keberadaan perempuan di sekitar mereka.
Hal ini bertentangan dengan komentar dari salah satu masyarakat desa Lido yang mengatakan adanya saksi perempuan yang melihat langsung korban mengalami kecelakaan akibat melaju dengan kecepatan tinggi di jalan berbatu.
Komentar itu akhirnya dihapus dari media sosial, menimbulkan pertanyaan besar: mengapa ada upaya untuk menghilangkan kesaksian? Jika benar ada saksi perempuan yang melihat kecelakaan, mengapa informasi ini baru muncul setelah kasus semakin ramai diperbincangkan?
##Manipulasi Fakta dan Dugaan Pembungkaman Kebenaran##
Serangkaian kejanggalan dalam narasi kecelakaan murni semakin menguatkan dugaan adanya rekayasa fakta. Kesaksian R, yang mengaku mendengar koordinasi para pelaku untuk menghadang korban, serta laporan saksi lain mengenai keberadaan sekelompok orang di tempat kejadian, menjadi sinyal kuat bahwa ini bukanlah insiden kecelakaan biasa melainkan sebuah tindakan pembunuhan yang telah dirancang dengan sangat rapi dan sempurna.
Jika ada pihak yang berusaha mengaburkan fakta dan menghapus kesaksian dari media sosial, apakah ini bagian dari skema sistematis untuk melindungi pelaku?
Semakin banyaknya bukti dan kesaksian yang mengarah pada dugaan pengeroyokan sistematis terhadap korban, kasus ini harus segera diusut secara transparan. Jika tidak ada tindakan tegas dari aparat berwenang, maka keadilan bagi korban akan semakin sulit ditegakkan.


























