Bima, 26 Juni 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Selamat datang di era gemilang, era Mahasiswa 5.0! Digaungkan sebagai generasi super, manusia yang bersimbiosis dengan teknologi, siap memecahkan masalah kompleks bangsa dengan satu sentuhan jari. Mereka adalah puncak evolusi intelektual, dipersenjatai smartphone canggih dan kuota tak terbatas. Di atas kertas, mereka adalah harapan. Di dunia nyata, mereka adalah atlet jempol profesional.
Lihatlah mereka di habitat aslinya: kafe-kafe dengan Wi-Fi kencang, sudut-sudut kampus dekat colokan listrik, atau bahkan di barisan paling belakang ruang kelas. Mata mereka terpaku pada layar, bukan pada halaman buku. Wajah mereka bersinar, bukan karena pencerahan ilmu, melainkan karena cahaya biru dari layar gawai yang menampilkan tarian viral terbaru.
Inilah Mahasiswa 5.0, di mana minat baca bukan lagi melemah, tapi sudah masuk ruang ICU, menunggu ajal. Buku-buku tebal berdebu di perpustakaan menatap mereka dengan nanar, nasibnya tak lebih berharga dari ganjalan pintu. Skripsi dan jurnal ilmiah dianggap sebagai artefak kuno yang menakutkan, sementara utas gosip yang bertebaran di media sosial mulai dari Facebook sampai di Twitter (xl dibedah dan dianalisis hingga ke akar-akarnya dalam forum diskusi virtual.
Kecepatan membaca mereka memang menurun drastis, tapi jangan remehkan kecepatan mereka menyerap informasi. Dalam 60 detik, seorang Mahasiswa 5.0 mampu:
Menyimpulkan krisis politik global dari video TikTok berdurasi 15 detik.
Menjadi pakar kesehatan mental setelah membaca tiga slides infografis di Instagram.
Menghakimi sebuah karya sastra kompleks hanya dari kutipan yang dijadikan background musik galau.
Mereka telah menguasai “efisiensi” tingkat dewa. Buat apa menghabiskan waktu berhari-hari membaca buku tebal jika semua “ilmu” bisa didapatkan sambil rebahan, hanya dengan menggeser jempol ke atas? Otak mereka telah beradaptasi menjadi mesin pemindai super cepat, bukan lagi untuk memahami, tapi untuk melewati. Mencari dopamin instan dari konten berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya.
Hasrat scrolling mereka adalah candu baru. Sebuah ritual suci yang dilakukan sejak membuka mata hingga terlelap dalam dekapan layar. Di dunia mereka, argumen paling valid adalah yang paling banyak dapat likes. Kebenaran paling hakiki adalah yang sedang viral. Referensi paling tepercaya adalah akun centang biru dengan jutaan followers.
Maka, lahirlah sebuah generasi dengan pengetahuan selebar genangan air, namun sedalam kulit ari. Mereka fasih berbicara tentang “privilege,” “self-love,” dan “hustle culture,” tapi gagap ketika ditanya tentang sejarah bangsanya sendiri. Mereka siap berdebat sengit di kolom komentar, tapi kabur ketika diajak diskusi tatap muka yang butuh data dan argumen terstruktur.
Jadi, selamat datang pada Mahasiswa 5.0! Generasi yang diotaknya terinstall aplikasi terbaru, tapi di hatinya ter-install kekosongan intelektual. Mereka mungkin akan membangun Society 5.0, tapi pondasinya terbuat dari meme, tarian viral, dan drama-drama sesaat.
Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka mau membaca, tapi apakah mereka masih bisa? Atau jangan-jangan, kemampuan untuk fokus lebih dari 30 detik sudah dianggap sebagai bakat langka yang harus dilestarikan?








































