banner 728x250

Mahasiswa Generasi Jempol Dengan Perjuangan Sebatas Kuota

Bima, 26 Juni 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Di genggamanmu ada gawai, di ujung jarimu ada kekuatan untuk menyebar informasi dalam hitungan detik. Kau sematkan gelar “Agen Perubahan” di bio Instagram-mu, lengkap dengan twibbon paling keren saat ada isu yang sedang tren. Setiap hari, linimasamu penuh dengan utas kritis, story yang menggugah, dan caption yang berapi-api. Pertanyaannya, apakah gemuruh di dunia maya itu adalah gema dari sebuah pergerakan, atau hanya sekadar kebisingan di ruang hampa?

Mari kita jujur sejenak. Sejarah bangsa ini diukir dengan darah dan keringat mahasiswa. Mereka tidak punya followers, tapi punya massa. Mereka tidak membuat thread di Twitter, tapi mereka mendobrak gerbang parlemen. Suara mereka tidak diukur dari jumlah likes atau retweets, tapi dari sejauh mana penguasa gemetar dan kebijakan tiran tumbang. Mereka adalah agen perubahan yang sesungguhnya, yang menjadikan jalanan sebagai mimbar dan aspirasi rakyat sebagai satu-satunya panduan.

Sekarang, lihatlah cermin. Apa yang kita lihat?

Generasi yang lebih sibuk membangun personal branding sebagai aktivis ketimbang membangun basis gerakan yang solid. Generasi yang lebih takut salah ketik di media sosial daripada salah mengambil langkah perjuangan. Kita saksikan “aktivisme” yang bermekaran di jam-jam primetime media sosial, lalu layu ketika kuota internet habis.

Kita menjadi “Agen Medsos”. Keahlian kita adalah merangkai kata-kata pedas dalam 280 karakter. Kita jago membuat desain grafis yang estetis untuk mengkritik pemerintah. Kita menggelar diskusi-diskusi intelektual di Twitter Spaces dan Clubhouse, berdebat sengit hingga larut malam, lalu bangun esok paginya dan kembali bertanya, “Hari ini kita nongkrong di kafe mana?”

Kritis kita seringkali hanya sebatas layar. Provokatif kita hanya sebatas caption.

Kita marah pada ketidakadilan, tapi kemarahan itu menguap setelah kita menekan tombol “posting”. Kita prihatin pada kemiskinan, tapi keprihatinan itu lenyap saat kita sibuk memilih filter yang pas untuk story berikutnya. Kita menuntut transparansi, tapi kita sendiri terjebak dalam gelembung algoritma yang hanya menyajikan apa yang ingin kita dengar.

Apakah ini yang disebut perjuangan? Mengubah tragedi menjadi konten? Mengubah isu krusial menjadi tren sesaat?

Kawan, menjadi agen perubahan itu butuh lebih dari sekadar jempol yang lincah. Ia butuh kaki yang tak lelah melangkah ke desa-desa tertinggal, bukan hanya ke coffee shop estetis di pusat kota. Ia butuh telinga yang mau mendengar rintihan petani dan buruh, bukan hanya mendengarkan podcast para intelektual. Ia butuh keberanian untuk berdialog dan bahkan berdebat di dunia nyata, di mana risiko dan konsekuensi jauh lebih besar daripada sekadar di-block atau di-unfollow.

Tri Dharma Perguruan Tinggi Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat tidak menyebutkan “Membuat Konten Viral” sebagai pilar keempat.

Jadi, tanyakan pada dirimu sendiri: Kapan terakhir kali kau turun langsung membantu komunitas yang kau bela di media sosial? Kapan terakhir kali gagasanmu kau tuangkan dalam sebuah kajian kebijakan yang nyata, bukan sekadar opini di kolom komentar? Kapan terakhir kali energimu kau habiskan untuk mengorganisir aksi nyata, bukan sekadar mengorganisir perang tagar?

Jangan sampai sejarah mencatat generasi kita sebagai generasi yang paling vokal, namun paling nihil aksi. Generasi yang paling kritis di dunia maya, namun paling apatis di dunia nyata. Generasi yang fasih berbicara tentang perubahan, namun hanya menjadi agen bagi algoritma media sosial.

Panggungmu bukan di linimasa. Panggungmu adalah realitas bangsa yang carut-marut ini. Pilih peranmu: menjadi aktor utama perubahan, atau sekadar penonton yang rajin memberi komentar dari kursi ternyamanmu sambil memegang ponsel.

Sejarah tidak akan pernah mencatat jumlah followers-mu. Tapi ia tidak akan pernah lupa pada jejak langkahmu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *