banner 728x250

MENGAPA WANITA CENDERUNG MEMILIH MATERI, SEMENTARA PRIA MENGEJAR FISIK?

Antara Data Tarik Dan Daya Beli

Bima, 17 Juni 2025 || Kanal Aspirasi Dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Di tengah maraknya perdebatan soal cinta dan kepentingan, sebuah pertanyaan klasik kembali mencuat: Mengapa wanita cenderung lebih tertarik pada stabilitas finansial, sementara pria lebih terpikat oleh penampilan fisik? Jawaban dari pertanyaan ini ternyata bukan sekadar persoalan zaman, tetapi menyentuh akar terdalam naluri manusia evolusi.

Menurut sudut pandang psikologi evolusioner, kecenderungan tersebut bukanlah hasil konstruksi sosial semata, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam struktur sosial purba, wanita menghadapi resiko biologis yang tinggi seperti kehamilan dan pengasuhan anak sehingga lebih selektif terhadap pasangan yang mampu menjamin keamanan, stabilitas, dan sumber daya.

Sebaliknya, pria secara evolusioner dirancang untuk menyebarluaskan keturunannya, dan karenanya, lebih tertarik pada ciri-ciri fisik yang menunjukkan kesuburan dan daya tarik biologis, seperti wajah simetris, postur tubuh sehat, dan isyarat visual lainnya.

“Ini bukan soal matre atau dangkal,” jelas seorang psikolog relasi dari Makassar. “Ini soal bagaimana otak manusia terbentuk dari masa lampau, ketika pilihan pasangan bisa menentukan peluang bertahan hidup keturunan kita.”

Dinamika Ini di Era Modern: Apakah Masih Relevan?

Meskipun peradaban telah berubah, jejak psikologi evolusioner masih hidup dalam bawah sadar manusia. Penelitian oleh Buss & Schmitt (1993) menunjukkan bahwa dalam lebih dari 37 budaya, wanita konsisten lebih menghargai status ekonomi dalam pasangan, sementara pria cenderung memprioritaskan penampilan.

Namun, di zaman di mana perempuan juga menjadi pencari nafkah dan pria pun mendambakan kenyamanan emosional, dinamika ini mulai bergeser. Daya tarik kini bukan hanya tentang fisik atau dompet, tapi juga tentang koneksi emosional dan stabilitas mental.

Meski begitu, naluri bawah sadar masih memainkan peran penting dalam proses awal ketertarikan.

“Kita semua membawa jejak masa lalu dalam hati kita, meski kita menamainya dengan bahasa cinta yang modern,” tambah sang pakar.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *