Bima, 22 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Di tengah kobaran semangat warga Lambitu menuntut hak dasar atas jalan yang layak, sekelompok oknum pengecut justru memilih jalur busuk: menyebar fitnah dan racun ke ruang publik. Tak mampu beradu data dan fakta telanjang mengenai bobroknya infrastruktur Lambitu yang sudah dua dekade, mereka kini melancarkan serangan personal, mencoba mengubur substansi persoalan di bawah tumpukan gosip murahan.
“Narasi usang mereka bangun: para pengkritik dituduh bergerak karena motif uang, gila popularitas, dan sekadar amatiran,” ujar Bung Ipul Putra Asli Lambitu, tokoh perlawanan warga, dengan nada geram. “Ini adalah cerminan paling jujur dari karakter mereka yang rapuh; sebuah mentalitas anti-dialog yang lebih memilih membunuh karakter lawan bicara daripada menghadapi substansi persoalan.”
Mereka mungkin berharap, dengan kebisingan tak berarti ini, perhatian publik akan teralihkan. Mereka mungkin berpikir, dengan menyerang individu, semangat perlawanan akan padam. “Mereka telah salah perhitungan secara fundamental,” tegas Bung Ipul.
Taktik Usang, Karakter Lemah: Potret Keputusasaan Oknum Pembela Status Quo
Serangan personal adalah senjata terakhir bagi mereka yang sudah kehabisan argumen, tak punya jawaban, dan tak sanggup berdiri di atas kebenaran. Tindakan oknum-oknum ini, menurut Bung Ipul, bukanlah cerminan kekuatan, melainkan pertunjukan kelemahan yang telanjang dan memalukan.
“Mereka tak sanggup menjawab pertanyaan sederhana: ‘Mengapa jalan Lambitu dibiarkan hancur selama 20 tahun?'” sindir Bung Ipul tajam. “Karena tak punya jawaban, mereka menciptakan pertanyaan baru yang tidak relevan: ‘Siapa yang mengkritik dan apa motifnya?’ Ini adalah upaya putus asa untuk menggeser medan pertempuran dari arena kebijakan publik yang vital ke arena gosip murahan yang menjijikkan. Sebuah langkah yang tidak hanya menghina akal sehat, tapi juga menunjukkan betapa rendahnya kualitas pemikiran mereka.”
Gerakan rakyat Lambitu tidak akan pernah sudi terseret ke dalam lumpur fitnah yang mereka ciptakan. Setiap tuduhan kotor yang dilontarkan oknum-oknum itu justru menjadi pemantik untuk memperkuat barisan dan menjawabnya dengan perlawanan yang lebih cerdas.
Manuver picik yang dilakukan oknum-oknum ini telah menjadi blunder fatal. Alih-alih memecah belah, serangan mereka justru menjadi katalisator yang memperjelas siapa kawan sejati perjuangan dan siapa lawan status quo yang menindas. Mereka, tanpa sadar, telah membantu rakyat untuk membedakan mana suara tulus yang berjuang untuk perbaikan, dan mana suara sumbang yang hanya ingin mempertahankan kehancuran demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
“Gerakan ini tidak akan goyah. Fokus perjuangan tetap sama dan tidak akan bergeser satu milimeter pun: Jalan Layak untuk Warga Lambitu!” seru Bung Ipul mengakhiri. “Kebisingan yang diciptakan para oknum itu akan lenyap ditelan waktu, namun tuntutan rakyat untuk aspal yang layak akan terus menggema hingga menjadi kenyataan. Ini adalah janji perjuangan!”








































