BIMA, 26 Agustus 2025 || Kawah NTB – Mari kita semua berdiri dan memberikan tepuk tangan yang paling gemuruh untuk Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Bima, Zunaidin, MM. Dalam sebuah pementasan drama politik yang memukau, beliau telah berhasil melakukan gerakan yang mustahil: menjilat kembali ludahnya sendiri hingga bersih tak bersisa. Sungguh sebuah pertunjukan kelenturan tulang punggung yang layak diganjar medali emas.
Setelah sempat menjadi “pahlawan kesiangan” dengan pengakuan jujurnya yang membongkar borok “arahan” DPRD dalam proyek Pokir, Zunaidin kini telah kembali ke jalan yang benar. Dengan wajah penuh penyesalan (yang terlatih), ia menampilkan klarifikasi yang begitu indah, sebuah mahakarya permintaan maaf yang intinya adalah: “Mohon maaf, kemarin saya khilaf telah berkata jujur.”
Sebuah Opera Pengabdian: Dari Pembocor Rahasia Menjadi Pelayan Setia
Klarifikasi Zunaidin bukanlah sekadar permintaan maaf, itu adalah sebuah opera pengabdian. Sebuah sumpah setia jilid dua kepada sistem yang sempat ia goncang. Mari kita bedah babak-babak spektakulernya:
Babak Pertama: Ritual Pengorbanan Diri. Dengan gagah berani, Zunaidin menjadikan dirinya sebagai satu-satunya tersangka. “Ini murni kekhilafan saya,” ujarnya, seolah-olah mulutnya bisa bergerak sendiri tanpa perintah otak. Ini adalah taktik brilian untuk mengubah isu “kejahatan sistemik” menjadi “kesalahan personal”. Para Raja dan Ratu Pokir di DPRD dan eksekutif kini bisa tidur nyenyak. Pion telah maju untuk dikorbankan.
Babak Kedua: Mantra “Sesuai Prosedur”. Setelah mengaku salah, ia kemudian merapal mantra sakti para birokrat: “Semua sudah sesuai aplikasi dan prosedur.” Tentu saja. Prosedur dan aplikasi itu kini tak lebih dari mesin stempel otomatis. Pemenangnya sudah ditentukan di lobi-lobi politik, dan aplikasi hanya bertugas meresmikannya. Terima kasih Zunaidin, telah mengingatkan kami betapa “suci”nya prosedur di negeri ini.
Duta Besar Kejahatan Pokir yang Baru
Dengan manuver ini, Zunaidin bukan lagi sekadar Kepala Dinas. Ia telah secara sukarela mengangkat dirinya menjadi Duta Besar dan Juru Bicara Kejahatan Dana Pokir. Tindakannya lebih dari sekadar menyelamatkan jabatan; ia secara aktif membantu menutupi jejak kejahatan dan melegitimasi kembali praktik busuk yang ada.
Pengakuan awalnya adalah retakan di dinding korupsi. Klarifikasinya adalah semen kualitas terbaik yang menambal retakan itu hingga lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak hanya mendukung, ia merawat, memupuk, dan memastikan kejahatan ini akan terus merajalela di masa depan. Ia adalah penjaga gerbang yang paling loyal.
Publik kini paham. Jika Anda ingin tahu bagaimana cara kerja persekongkolan jahat dalam dana Pokir, jangan tanya APH. Tanyalah pada Zunaidin. Beliau adalah saksi kunci yang kini telah bermetamorfosis menjadi terdakwa yang paling gigih membela para penjahatnya.
Selamat untuk Zunaidin. Anda mungkin kehilangan integritas, tetapi Anda telah mendapatkan kembali posisi nyaman Anda di dalam sistem. Sebuah pertukaran yang, di dunia Anda, mungkin sangat sepadan. Bravo!
























