BIMA, 6 April 2026 || Kawah NTB – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai pilar untuk mencetak generasi sehat dan bebas stunting, justru berubah menjadi petaka di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Pada hari Sabtu (4/4/2026), sebanyak 24 warga dilarikan ke Puskesmas Wera akibat keracunan massal. Ironisnya, korban didominasi oleh kelompok paling rentan yang seharusnya dilindungi oleh program ini: 19 balita usia TK/PAUD dan seorang ibu hamil.
Dugaan kuat penyebab keracunan mengarah pada sajian omprengan MBG yang didistribusikan melalui Posyandu SPPG Wera Nangawera (Wadu Bedi).
SOP Manajemen Pangan Dipertanyakan: Masak Dini Hari, Dimakan Menjelang Malam
Rentetan kejadian ini memunculkan kritik keras terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan dalam program tersebut. Berdasarkan investigasi awal, makanan yang berisi nasi, telur ceplok berbumbu, nugget, timun, kemangi, dan jeruk santang tersebut sudah mulai dimasak di Dapur MBG sejak pukul 02.00 WITA dini hari.
Makanan tersebut baru didrop ke sasaran pada pukul 08.00 hingga 09.00 WITA. Celakanya, banyak penerima manfaat yang baru mengonsumsi makanan tersebut berjam-jam kemudian, dengan puncaknya pada sore hari sekitar pukul 18.00 WITA. Rentang waktu hingga 16 jam dari proses memasak hingga masuk ke perut ini jelas menjadi inkubator yang mematikan bagi bakteri, terlebih untuk lauk berbumbu dan sayuran segar.
Tidak heran jika sejak pukul 15.00 WITA hingga larut malam, IGD Puskesmas Wera berturut-turut diserbu pasien dengan keluhan seragam: muntah hebat, sakit perut melilit, dan diare.
Mandulnya Pengawasan dan Edukasi di Lapangan
Pada Minggu (5/4/2026), Dinas Kesehatan Kabupaten Bima dan Puskesmas Wera telah turun ke SPPG Wadu Bedi untuk melakukan investigasi dan mengambil sampel makanan. Dari hasil wawancara dengan kader posyandu, terungkap fakta yang menampar tata kelola penyelenggara: makanan ternyata tidak dikonsumsi langsung di tempat, melainkan dibawa pulang ke rumah.
Bahkan, beberapa korban keracunan teridentifikasi bukanlah penerima manfaat resmi. Hal ini memantik pertanyaan besar: Jika program ini dikonsep untuk dimakan bersama guna memastikan kelayakan dan gizi tepat sasaran, mengapa pengawasan di akar rumput begitu longgar hingga makanan dibiarkan dibawa pulang berjam-jam? Hal ini menunjukkan lemahnya kontrol serta minimnya edukasi dari koordinator lapangan kepada masyarakat terkait batas waktu kelayakan konsumsi (expired time) makanan siap saji.
Rincian Data Korban
Beruntung, penanganan medis bergerak cepat. Total 24 korban keracunan telah mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Wera dan saat ini seluruhnya telah dipulangkan ke rumah masing-masing. Berikut rincian korban:
Balita (TK/PAUD): 19 orang
Orang Dewasa: 3 orang
Ibu Hamil: 1 orang
Pelajar SMP: 1 orang
Menunggu Bukti Lab, Bukan Sekadar Dalih
Saat ini, sampel makanan telah diamankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bima untuk proses uji laboratorium. Pihak dinas memberikan imbauan agar masyarakat tidak berasumsi liar hingga hasil lab keluar secara resmi.
Kendati demikian, publik menuntut evaluasi menyeluruh tanpa ada yang ditutupi. Kejadian Luar Biasa (KLB) di Wera ini bukan sekadar musibah, melainkan alarm darurat. Jangan sampai kelalaian manajemen waktu dapur dan kelemahan pengawasan di lapangan membuat program mulia ini berubah menjadi mesin pencetak penyakit bagi rakyat kecil. Pemerintah dituntut untuk segera mengevaluasi rantai pasok dan standar penyajian MBG sebelum jatuh korban yang lebih banyak di daerah lain!








































