Bima, 22 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Setelah penantian panjang yang diiringi derap langkah perjuangan tanpa henti, akhirnya tiba saatnya bagi kami, Aliansi Pemuda Peduli Lambitu (APPL), untuk menyuarakan apresiasi mendalam atas sikap responsif dan keberanian DPRD Kabupaten Bima. Keputusan untuk membuka ruang Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait krisis infrastruktur jalan di Lambitu bukanlah sekadar agenda rutin, melainkan sebuah manifestasi nyata dari komitmen dewan perwakilan rakyat terhadap suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
“Ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah gestur politik yang patut dicatat dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan masyarakat Lambitu,” ujar Saifullah, Koordinator APPL, yang akrab disapa Bung Ipul, dengan sorot mata penuh harap namun tetap tegas. “Selama ini, jalan-jalan kami adalah saksi bisu dari janji-janji yang menguap, dari penderitaan yang tak berkesudahan. Namun hari ini, dengan dibukanya pintu RDPU ini, kami merasakan denyut harapan baru, bahwa suara rakyat, suara pemuda, tidak lagi sekadar riak di permukaan, melainkan gelombang yang mampu menggerakkan perubahan.”
APPL bersama Lembaga Bantuan Hukum Peduli Rakyat Indonesia (LBHPRI) telah berjuang tanpa lelah, membawa aspirasi dan duka Lambitu ke berbagai forum. Pengajuan surat permohonan RDPU pada 14 Juli 2025 adalah puncak dari kegelisahan kolektif yang telah membuncah selama dua dekade. Respons cepat dari DPRD Kabupaten Bima, dengan memanggil seluruh pihak terkait Dinas PUPR, LBHPRI, APPL, Pemerintah Kecamatan Lambitu, dan masyarakat sipil untuk hadir dalam RDPU Komisi 3 pada Rabu, 23 Juli 2025 pukul 13:30, adalah bukti bahwa ada telinga yang mau mendengar dan ada tangan yang siap merangkul.
“Kami melihat ini sebagai sebuah momentum bersejarah, di mana institusi yang seharusnya menjadi jembatan antara rakyat dan kebijakan, akhirnya berdiri tegak di sisi kami,” tambah Bung Ipul. “Ini menunjukkan bahwa keberanian politik masih ada, bahwa empati terhadap penderitaan rakyat kecil belum sepenuhnya sirna. Lambitu mungkin bukan pusat perhatian, bukan lumbung suara yang diincar setiap pemilu, namun hari ini, kami merasa diperhatikan, kami merasa dihargai sebagai bagian integral dari pembangunan daerah ini.”
Bung Ipul menegaskan bahwa kehadiran APPL dalam RDPU nanti bukan hanya untuk sekadar memenuhi undangan. Mereka akan membawa semangat membara dari setiap pemuda-pemudi Lambitu, didukung oleh data konkret, dokumentasi visual penderitaan, dan testimoni jujur dari masyarakat. “Kami tidak datang untuk berteori. Kami datang untuk menyajikan realitas pahit yang selama ini kami hadapi, untuk menuntut bukan sekadar perbaikan, melainkan sebuah komitmen jangka panjang untuk masa depan Lambitu yang lebih baik.”
Dengan nada penuh keyakinan, Bung Ipul menutup pernyataannya: “DPRD Bima telah menunjukkan itikad baiknya dengan membuka pintu. Kini, bola ada di tangan Dinas PUPR dan seluruh pihak terkait. Jangan sampai momentum berharga ini hanya menjadi panggung presentasi tanpa aksi nyata. Rakyat Lambitu butuh bukti, bukan janji. Kami berharap RDPU ini bukan hanya sebuah forum diskusi, melainkan titik awal dari restorasi martabat dan kesejahteraan masyarakat Lambitu.”








































