banner 728x250

BUKTI CCTV PENGEROYOKAN DI DAPUR SADIA 2 TERBONGKAR: Tangan-Tangan Disusui Uang Negara Pukuli Petugas di Dapur Steril Milik H. Azhari

BIMA, 1 Juni 2026 || Kawah NTB – Sandiwara yang mencoba menutupi tragedi berdarah di Dapur Gizi Sadia 2, milik mantan Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kota Bima, H. Azhari, akhirnya runtuh. Sebuah rekaman CCTV yang bocor telah mengungkap wajah asli arogansi dan premanisme yang selama ini dipelihara di balik label program gizi negara.

Bukti tak terbantahkan kini telah muncul. Rekaman CCTV dari dalam dapur yang dikelola oleh H. Azhari dan keluarganya menunjukkan dengan jelas terjadinya tindak pidana pengeroyokan yang brutal. Kejadian ini tidak lagi bisa dibantah atau disederhanakan sebagai kesalahpahaman biasa; ini adalah kejahatan serius yang terjadi di dalam fasilitas yang disewa mahal oleh negara.

Bedah Bukti CCTV: Pengeroyokan Pidana di Ruang Steril

Sebuah gambar diam yang diambil dari rekaman CCTV tersebut menjadi bukti telanjang atas aksi premanisme yang terjadi. Keterangan pada gambar tersebut tidak menyisakan ruang untuk perdebatan:

Latar Depan: Di bagian depan gambar, seorang pekerja perempuan terlihat sedang sibuk bekerja di bak nasi oranye besar. Ia mengenakan berkerudung hitam, kacamata hitam, dan berbaju merah. Pekerja ini adalah saksi bisu yang tampaknya sudah terbiasa dengan iklim kerja yang penuh tekanan dan pelanggaran SOP.

Latar Belakang (Yang Ditunjuk Panah Merah): Inilah fokus utama dari kejahatan yang terjadi. Seorang korban, yang merupakan petugas SPPI yang sedang menjalankan tugas negara, terlihat jelas sedang menjadi sasaran pengeroyokan. Pria berpakaian gelap (kaus hitam/gelap), yang ditunjuk secara spesifik oleh panah merah, sedang dikepung dan dikeroyok oleh beberapa orang sekaligus. Para pelaku pengeroyokan ini, yang terlihat jelas mengelilingi korban, adalah para mitra kerja yang tak lain adalah keluarga dekat dari H. Azhari sendiri.

Gambar ini memperlihatkan tindak pidana pengeroyokan massal, di mana satu orang korban yang sedang menjalankan tugas pengawasan standar operasional prosedur (SOP) diserang oleh sekelompok orang yang merasa lebih berkuasa.

Di Mana Nurani Mantan Kadiskes H. Azhari?

Ini adalah tamparan keras bagi kredibilitas dan nurani H. Azhari. Sebagai mantan Kepala Dinas Kesehatan, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga standar kesehatan dan keselamatan, Azhari justru membiarkan keluarganya bertindak layaknya geng jalanan di dalam fasilitas gizi negara miliknya.

Bagaimana mungkin fasilitas negara yang disewa dengan harga selangit—Rp 6 juta per hari untuk dapur dan miliaran per tahun untuk kendaraan operasional telah menjadi ring tinju ilegal untuk keluarganya? Apakah uang sewa fantastis dari APBN itu dianggap sebagai uang ‘perlindungan’ untuk membiayai premanisme keluarga?

Negara membayar H. Azhari dengan harga mahal untuk menyembuhkan anak-anak bangsa dari stunting dengan gizi yang steril, bukan untuk membayar keluarganya mengeroyok petugas yang menegur pelanggaran SOP kesehatan mereka. Sikap diam Azhari atas pengeroyokan yang dilakukan oleh keluarganya di tempat steril adalah bentuk persetujuan diam-diam. Ini adalah puncak arogansi seorang tuan tanah feodal yang menyusui anak-anaknya dengan uang negara untuk memukuli petugas negara.

Laporan Polisi Masuk Angin, Desakan Sanksi Permanen

Kita harus bertanya-tanya dengan keras: Di mana polisi? Laporan tindak pidana pengeroyokan yang buktinya sudah telanjang di CCTV ini belum juga berlanjut. Apakah bayang-bayang mantan Kadiskes itu begitu kuat hingga melumpuhkan aparat penegak hukum di Kota Bima? Laporan yang menggantung ini adalah skandal lain yang memalukan.

Badan Gizi Nasional, SPPI, dan Korwil MBG Kota Bima tidak bisa lagi masuk angin atau bersikap pengecut. Dispensasi untuk H. Azhari sudah berakhir. Dapur Sadia 2 milik H. Azhari tidak layak lagi menjadi mitra dalam program gizi negara.

Sanksi suspend permanen harus segera dijatuhkan. Seluruh kontrak sewa yang totalnya mencapai miliaran per tahun harus diputus sekarang juga. Pelaku pengeroyokan yang terlihat jelas di CCTV harus segera diseret ke pengadilan tanpa pandang bulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *