banner 728x250

Satu Tangan Untuk Seumur Hidup: Cerita Pilu Arumi Tak Bisa Ditutup Prosedur

Bima, 28 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Mari sejenak kita palingkan pandangan dari silat lidah para ahli hukum dan dinginnya ruang sidang. Mari kita tinggalkan perdebatan tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) dan itikad baik yang kini menjadi tameng. Pejamkan mata dan proyeksikan pikiran kita lima belas atau dua puluh tahun ke depan. Di sana, di masa depan itu, kita akan melihat Arumi bukan lagi sebagai balita korban malapraktik, tetapi sebagai seorang perempuan dewasa yang menatap dunia dengan satu tangan.

Di masa depan itulah, dampak sesungguhnya dari tragedi hari ini akan terlihat telanjang tanpa bisa ditutupi oleh narasi hukum apapun. Tangan yang diamputasi itu bukan sekadar kehilangan organ; ia adalah benih dari penderitaan multidimensi yang akan terus tumbuh sepanjang hidupnya. Inilah dampak buruk yang harus kita pahami bersama, agar kita tidak membiarkan Arumi berdiri sendirian menanggungnya.

Perjuangan Seumur Hidup Melawan Rasa Minder

Ketika Arumi memasuki usia remaja, ia akan berhadapan dengan cermin dan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang tak akan bisa dijawab oleh teman sebayanya. Ia akan belajar menyembunyikan tangannya di saku, menghindari jabat tangan, dan mungkin menangis dalam diam saat melihat teman-temannya melakukan hal-hal sederhana seperti menguncir rambut atau bertepuk tangan. Perasaan “berbeda” dan “tidak sempurna” ini rasa minder akan menjadi bayangan gelap yang terus mengikutinya. Ini adalah luka psikologis yang jauh lebih perih dari bekas luka operasi.

Gerbang Kesempatan yang Menyempit

Saat ia dewasa dan mencoba memasuki dunia kerja, Arumi akan menemukan kenyataan yang brutal. Betapapun cerdas dan berbakatnya dia, banyak pintu akan tertutup bahkan sebelum ia sempat mengetuknya. Dunia kerja, secara sadar atau tidak, didesain untuk manusia bertangan dua. Dari pekerjaan kasar hingga pekerjaan yang menuntut ketelitian, dari mengoperasikan mesin hingga mengetik cepat di komputer, ia akan selalu berada pada posisi yang dirugikan. Diskriminasi, baik yang terselubung maupun yang terang-terangan, akan menjadi rintangan tambahan yang harus ia taklukkan. Amputasi ini bukan hanya merenggut tangannya, tapi juga merampas sebagian besar kesempatan ekonominya di masa depan.

Labirin Hati dan Pencarian Pasangan

Dan ketika ia mencari belahan jiwa, perjuangannya akan memasuki level yang lebih personal dan rapuh. Ia mungkin akan terus bertanya, “Adakah yang mau menerima kekuranganku? Akankah aku menjadi beban baginya?” Ketakutan akan penolakan dan rasa tidak aman akan menjadi tembok tinggi yang mengelilingi hatinya. Menemukan pasangan hidup adalah sebuah perjalanan yang sulit bagi siapa pun, namun bagi Arumi, perjalanan itu akan menjadi sebuah labirin yang jauh lebih rumit, penuh dengan keraguan diri yang ditanamkan oleh tragedi di masa kecilnya.

Keadilan Hari Ini Adalah Bekal untuk Perang Esok Hari

Melihat semua potret masa depan yang suram ini, kita harus sadar bahwa perjuangan hukum untuk Arumi saat ini bukanlah tentang balas dendam. Ini adalah tentang memberinya bekal untuk menghadapi perang seumur hidup yang sudah pasti akan ia jalani.

Keadilan dalam bentuk pertanggungjawaban penuh dari pihak rumah sakit bukanlah sekadar soal memuaskan rasa keadilan publik. Keadilan itu harus diterjemahkan menjadi dukungan finansial yang mampu menjamin Arumi mendapatkan prostetik terbaik seumur hidupnya, terapi psikologis tanpa henti untuk melawan depresinya, serta jaminan finansial yang bisa menjadi penyangga saat dunia kerja menolaknya.

Maka, jangan biarkan narasi “sesuai prosedur” membunuh empati kita. Prosedur tidak akan membantunya mengikat tali sepatu. Prosedur tidak akan menghapus rasa mindernya. Prosedur tidak akan memberinya pasangan hidup.

Kita sebagai masyarakat tidak bisa mengembalikan tangannya. Tetapi kita memiliki kewajiban moral untuk memastikan ia tidak kehilangan masa depannya juga. Dengan terus mengawal kasus ini dan menuntut keadilan yang substantif, kita tidak sedang menghakimi. Kita sedang memeluk Arumi dari kejauhan dan berkata: “Nak, kamu tidak akan berdiri sendirian.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *