Bima, 30 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Kasus amputasi tangan balita Arumi, yang diduga kuat akibat malapraktik medis di sebuah rumah sakit di Bima, terus menjadi sorotan tajam. Namun, di balik riuhnya perdebatan hukum dan prosedur, Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB kini secara khusus menyoroti dimensi yang tak kasat mata namun tak kalah krusial: dampak psikologis jangka panjang yang akan membayangi Arumi sepanjang hidupnya. Luka yang tertoreh pada mental dan emosi Arumi diperkirakan akan jauh lebih dalam dan bertahan lebih lama dari bekas luka fisik di lengannya.
Bayang-Bayang Trauma dan Kualitas Hidup
Menurut analisis Kawah NTB, kehilangan organ tubuh di usia yang sangat dini, terutama tangan yang fundamental bagi interaksi dan kemandirian, diperkirakan akan meninggalkan trauma psikologis mendalam bagi Arumi. Pada usia Arumi, perkembangan citra diri dan kemampuan adaptasi sosial sedang dalam tahap krusial. Kehilangan tangan akan memengaruhi bagaimana Arumi memandang dirinya, bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan, dan bagaimana ia membangun rasa percaya diri. Potensi munculnya kecemasan sosial, depresi, dan perasaan rendah diri sangat besar, terutama saat ia memasuki usia sekolah dan remaja.
Kawah NTB menyebutkan bahwa dampak psikologis ini bukan sekadar episode singkat yang akan berlalu. Trauma tersebut dapat terus berevolusi seiring dengan tahapan perkembangan Arumi. Saat balita, mungkin terlihat dari keterlambatan motorik halus atau kesulitan beradaptasi. Menginjak usia sekolah, ia mungkin menghadapi perundungan atau isolasi dari teman sebaya. Di masa remaja, perjuangan identitas diri akan diperparah dengan perasaan “berbeda” dan kecenderungan menarik diri dari pergaulan.
Pentingnya Pendekatan Holistik dalam Keadilan
Perdebatan mengenai keadilan dalam kasus Arumi, menurut Kawah NTB, tidak bisa lagi hanya berpusat pada kompensasi finansial semata atau penentuan siapa yang salah secara prosedural. Keadilan bagi Arumi harus mencakup dukungan psikologis yang komprehensif dan berkelanjutan. Ini berarti akses pada terapi bermain, konseling individual, dan dukungan keluarga yang kuat untuk membantu Arumi memproses trauma, membangun mekanisme koping yang sehat, dan mengembangkan resiliensi.
Kompensasi finansial memang penting untuk prostetik dan kebutuhan fisik, tetapi itu tidak cukup . “Dana harus juga dialokasikan untuk memastikan Arumi mendapatkan akses tak terbatas pada terapi psikologis terbaik sepanjang hidupnya. Ini adalah investasi pada kesehatan mental dan kualitas hidupnya di masa depan.”
Kasus Arumi menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa dampak malapraktik tidak hanya meninggalkan cacat fisik, tetapi juga luka batin yang tak terlihat. Pengawalan kasus ini bukan hanya tentang mencari siapa yang bertanggung jawab secara hukum, tetapi juga tentang memastikan Arumi mendapatkan seluruh dukungan yang ia butuhkan untuk menjalani hidup dengan martabat dan kebahagiaan, meskipun dengan satu tangan. Masyarakat Bima dan seluruh elemen peduli anak kini menuntut agar aspek psikologis ini menjadi prioritas utama dalam penyelesaian kasus Arumi, demi memastikan bahwa luka batinnya juga mendapatkan keadilan.








































