banner 728x250

Detik-detik Peringatan Ibu Kandung Arumi Yang Diabaikan Oleh Perawat Puskesmas Bolo

BIMA, 12 Agustus || Kawah NTB – Di sebuah puskesmas yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan, sebuah keluarga justru menemukan sayatan pilu yang tak terlupakan. Ini adalah kisah Arumi, seorang balita mungil, dan ibunya, Marlina, yang perjuangannya mencari kesembuhan diduga berakhir dengan derita akibat kelalaian medis di Puskesmas Bolo.

Semua berawal pada 10 April, saat harapan masih membuncah. Marlina membawa Arumi, yang terkulai lemas karena demam dan muntah, ke IGD Puskesmas Bolo. Sebuah infus pun dipasang di tangan kiri anaknya, namun kelegaan itu hanya sesaat. Tak lama setelah obat dialirkan, tangan kecil itu membengkak. Hati seorang ibu tak bisa diam; Marlina segera melapor, dan infus itu pun dicabut. Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, sore harinya sebuah infus baru akhirnya berhasil terpasang di tangan kanan Arumi.

Keesokan harinya, Arumi dipindahkan ke ruang perawatan anak, dan secercah asa kembali hadir. Namun, pada pagi hari tanggal 12 April, asa itu direnggut paksa. Seorang perawat bernama Nuriansya datang untuk memberikan injeksi Paracetamol. Naluri seorang ibu tak pernah salah. Marlina melihat dengan jelas tangan kanan putrinya mulai membengkak dan dengan cemas ia memperingatkan sang perawat.

Namun, kekhawatirannya seolah menabrak dinding kebisuan. Peringatan tulus itu diduga dijawab dengan enteng, “Tidak ada pembengkakan, hanya tembem karena efek plester.” Tanpa memeriksa lebih lanjut, sang perawat tetap melanjutkan tindakannya, menyuntikkan total 15cc cairan Paracetamol ke dalam tangan yang sudah mulai membengkak itu. Marlina hanya bisa menatap nanar, hatinya menjerit dalam diam.

Penderitaan Arumi ternyata belum berakhir. Malam itu, pada pukul 22.40 WITA, dan kembali terulang pada dini hari pukul 04.30 WITA, seorang perawat lain bernama Budiman diduga kembali memberikan suntikan Paracetamol dengan dosis yang sama, di jalur infus yang sama, di tangan yang sama. Peringatan Marlina di pagi hari seolah tak berbekas, diabaikan begitu saja.

Fajar tanggal 13 April tidak membawa harapan, melainkan puncak dari penderitaan Arumi. Setelah suntikan terakhir, tangisnya pecah. Ia menjerit kesakitan setiap kali Marlina mencoba menyentuh tangannya. Panik, Marlina memanggil perawat jaga. Infus itu akhirnya dicabut, dan di balik plester itu, terungkaplah sebuah pemandangan yang memilukan: tangan Arumi telah bengkak hebat dari jemari hingga punggungnya, memerah pekat menahan derita.

Ironisnya, setelah menyebabkan cedera tersebut, para perawat gagal memasang infus baru di bagian tubuh Arumi yang lain. Empat hari perawatan tak membawa perubahan, justru meninggalkan luka baru. Dengan kondisi anaknya yang semakin lemah dan tanpa akses infus yang vital, keluarga meminta rujukan ke RSUD Sondosia. Arumi pun dibawa pergi dari tempat itu, dalam kondisi ringkih, dirujuk tanpa infus yang terpasang di tubuhnya.

Kini, yang tersisa adalah tangisan seorang anak dan jeritan hati seorang ibu yang mencari keadilan. Kisah Arumi bukan lagi sekadar catatan medis, melainkan sebuah narasi pedih tentang bagaimana suara seorang ibu diabaikan dan kepercayaan pada pelayanan kesehatan tercabik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *