Bima, 12 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Sorotan tajam dan kritik pedas kini diarahkan pada kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bima, Ady-Irfan, seiring dengan kondisi memprihatinkan infrastruktur jalan di Kecamatan Lambitu. Kerusakan parah dan lubang menganga pada jalan lintas di wilayah tersebut dinilai sebagai bukti nyata kegagalan pasangan kepala daerah ini dalam mewujudkan janji “Perubahan” dan slogan “Bima Bermartabat” yang dulu digaungkan dari pelosok ke pelosok.
Pandangan ini diperkuat oleh pengamat politik, Saifullah, S.AP., M.AP., yang melihat bahwa kondisi jalan di Lambitu bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari tidak terealisasinya visi politik yang pernah mereka janjikan. “Janji ‘Perubahan’ yang menjadi andalan politik kini hanya menjadi slogan kosong. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa janji tersebut telah menjadi lelucon bagi masyarakat, utamanya warga Lambitu yang telah lama menanti,” tegas Saifullah.
Menurut Saifullah, slogan “Bima Bermartabat” harusnya diterjemahkan menjadi “Perubahan” yang berdampak nyata, bukan sekadar jargon politik untuk mengelabui kesadaran masyarakat. Kerusakan jalan yang ekstrem di Lambitu adalah bukti empiris bahwa pemerintah daerah sedang mendekati kegagalan dalam merealisasikan misi tersebut. Jalan yang layak adalah kunci dasar untuk meningkatkan kualitas hidup, membuka akses perekonomian, dan menumbuhkan kesejahteraan. Dengan kondisi yang ada, masyarakat Lambitu merasakan janji itu tidak lebih dari sekadar bualan.
Kunci dasar kemenangan Paslon No. 1 pada pemilihan yang lalu di Kecamatan Lambitu adalah besarnya harapan masyarakat untuk merealisasikan “Perubahan” yang berdampak baik pada kehidupan mereka. Dukungan penuh masyarakat diberikan atas dasar kepercayaan bahwa pasangan Ady-Irfan akan memprioritaskan perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang selama bertahun-tahun telah menjadi keluhan utama.
Namun, harapan itu kini tergerus oleh kenyataan pahit. Warga Lambitu harus berhadapan dengan kondisi jalan yang membahayakan setiap hari, memperlambat mobilitas, dan menghambat aktivitas ekonomi. Situasi ini, menurut Saifullah, menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan masyarakat tidak dibalas dengan kinerja yang sepadan.
Maka, tibalah saatnya bagi seluruh lapisan masyarakat Lambitu untuk mengingatkan secara tegas Bupati dan Wakil Bupati Bima serta seluruh instansi Pemerintah Daerah yang terkait. “Mata dan telinga harus dibuka,” seru Saifullah. Pemerintah daerah harus benar-benar melihat dan mendengarkan betapa ekstremnya situasi dan kondisi jalan di Kecamatan Lambitu.
Setelah mata terbuka dan telinga mendengarkan, langkah selanjutnya adalah berpikir dan mengambil tindakan nyata. Saifullah menegaskan, ini adalah momentum krusial bagi pasangan Ady-Irfan untuk menepati janji mereka. Jika tidak, maka slogan “Bima Bermartabat” hanya akan menjadi lelucon pahit bagi masyarakat Bima yang telah lama menunggu “Perubahan” yang nyata dari kebijakan dan kinerja pasangan bupati dan wakil bupati saat ini. Perbaikan jalan di Kecamatan Lambitu harus menjadi prioritas utama sebagai bukti konkret dari komitmen dan integritas kepemimpinan daerah.








































