banner 728x250

Dibalik Rusaknya Jalan Lambitu Ada Kehidupan Masyarakat Yang Retak

Bima, 15 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Kami kembali mengabarkan kondisi nyata dari jantung kehidupan rakyat yang selama ini dibungkam oleh angka-angka pembangunan palsu dan retorika politik elit. Kali ini, kami turun langsung ke Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, untuk mengungkap fakta brutal: jalan utama wilayah ini berubah menjadi kubangan lumpur dan genangan maut saat musim hujan melanda.

Ketika dalam keadaan musim hujan, warga terpaksa berjalan kaki di tengah lumpur pekat, kendaraan roda dua terperosok, dan mobil nyaris tidak bisa melintas. Anak sekolah, petani, ibu hamil, dan bahkan ambulans pun berhadapan langsung dengan risiko kecelakaan setiap hari. Tidak ada marka. Tidak ada drainase. Tidak ada belas kasihan dari kebijakan pemerintah.

Infrastruktur di Lambitu bukan sekadar buruk. Ia menjadi simbol ketidakpedulian sistemik.

Pemerintah Kabupaten Bima, yang seharusnya menjamin keselamatan dan mobilitas warganya, justru absen dari kenyataan. Mereka hadir saat kampanye, tapi hilang ketika rakyat terjebak lumpur. Mereka berbicara soal visi, tapi tidak punya nyali untuk melihat kondisi jalan ini secara langsung.

Jalan yang rusak bukan cuma urusan teknis Dinas PUPR ia adalah potret kelalaian struktural dan pelecehan terhadap hak hidup rakyat. Setiap genangan air di Lambitu saat musim hujan adalah saksi bisu atas ambruknya keadilan pembangunan. Setiap lubang yang menjerat ban motor adalah gugatan terbuka kepada Bupati dan DPRD yang terus memprioritaskan popularitas daripada prioritas kemanusiaan.

Ketika jalan menjadi ancaman, maka diamnya pemerintah adalah bentuk kekerasan kebijakan. Ketika rakyat harus bertaruh nyawa demi melintasi akses ke kebun, sekolah, atau rumah sakit, maka kita tidak lagi bicara soal infrastruktur kita bicara tentang pengabaian hak hidup yang disengaja.

Lubang-lubang jalan Lambitu bukan hanya menjerat ban kendaraan ia menjerat integritas kebijakan pemerintah daerah. Jika tidak segera ditindak, korban berikutnya bukan soal kemungkinan, tapi keniscayaan.

Kami akan terus menyuarakan dari titik pinggiran yang selama ini dipinggirkan. Jika pembangunan harus dimulai, mulailah dari tanah yang berlumpur tempat rakyat berjuang. Karena di sanalah letak keberanian negara: membangun bukan demi citra, tapi demi kehidupan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *