banner 728x250

Anak Sakit Dan Jalan Rusak Lambitu: Simbol Ketelanjangan Negara di Mata Rakyat

Bima, 18 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Dalam tafsir politik Bung Ipul, ia mencoba membongkar lapisan paling dalam dari kegagalan pemerintah.

Dan dalam pandangan kritis beliau, Anak yang sakit yang kesulitan untuk turun ke rumah sakit muhammadiyah karena jalan lambitu rusak parah itu adalah bukti hidup bahwa negara bisa hadir di spanduk, tapi absen di jalanan.

“Ketika seorang bocah berusia 6 tahun yang sakit demam harus bertaruh nyawa demi menempuh dua jam perjalanan di atas jalan rusak, itu bukan kesalahan teknis.

Itu adalah keputusan politik yang sudah disepakati, tahun ke tahun, oleh mereka yang duduk di atas anggaran!” tegas Bung

Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi bahan audit politik terhadap fungsi DPRD dan kepemimpinan Bupati Bima.

“Kami tidak minta jalan indah. Kami minta jalan yang tidak mematikan. Kalau itu tidak masuk rencana pembangunan, maka nyawa anak kecil di Lambitu memang tidak dianggap cukup penting oleh pemerintah!”

Bung Ipul juga menambahkan dengan gaya kritisnya ia bertanya, “Saya ingin tanya langsung ke Bupati dan DPRD, apakah kalian tahu rasa panik seorang ibu saat anaknya kejang dan mobil tidak bisa lewat cepat karena jalannya seperti sungai kering?

Apakah kalian tahu bahwa rujukan medis itu bukan soal prosedur, tapi soal detik yang menyelamatkan hidup?”

Dalam pandangan Bung Ipul, politik pembangunan di Bima terlalu sibuk menguntungkan elite, dan lupa menghitung kepentingan dasar manusia.

“Ketika kita bicara nyawa anak kecil, itu bukan soal anggaran. Itu soal apakah negara masih mau melihat kami sebagai warga negara.”

Bung Ipul menyatakan tegas, “Kalau seorang anak yang sakit demam yang mengalami kesulitan untuk turun ke daerah Bima kota tersebut harus menderita karena jalan, maka Bupati dan DPRD harus bertanggung jawab bukan hanya di mata hukum, tapi di mata rakyat.

Jalan rusak adalah alat struktural untuk membungkam harapan. Dan bocah umur 6 tahun tersebut adalah anak yang menolak dibungkam, dengan tangisan dan tubuh kecilnya yang mengguncang nurani kita!”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *