Bima, 3 Agustus 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Gelombang keprihatinan dan tuntutan keadilan untuk balita Arumi terus bergulir kencang pasca-amputasi tangannya, yang diduga kuat akibat kelalaian medis di sebuah rumah sakit di Bima. Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB kembali menegaskan bahwa perjuangan untuk Arumi tidak boleh surut. Keadilan yang diidamkan tidak hanya terbatas pada pertanggungjawaban pihak yang lalai, namun juga harus memastikan masa depan Arumi terlindungi secara menyeluruh, baik fisik maupun psikologis.
Sorotan tajam terhadap dugaan malapraktik yang dialami Arumi telah membuka mata publik akan pentingnya pengawasan dan standar pelayanan di fasilitas kesehatan. Namun, Kawah NTB mengingatkan bahwa keadilan sejati bagi Arumi tidak akan tercapai jika hanya berfokus pada proses hukum dan kompensasi materiil semata. Luka batin yang diderita Arumi akibat kehilangan অঙ্গান tubuh di usia dini adalah sebuah realita pahit yang tidak boleh diabaikan.
Trauma Psikologis Mengintai, Keadilan Harus Holistik
Seperti yang telah dianalisis sebelumnya oleh Kawah NTB, trauma psikologis jangka panjang akibat amputasi di usia balita dapat membawa dampak signifikan terhadap perkembangan citra diri, interaksi sosial, dan kesehatan mental Arumi di masa depan. Potensi munculnya kecemasan, depresi, dan rendah diri adalah ancaman nyata yang perlu diantisipasi dan ditangani secara serius.
“Keadilan untuk Arumi tidak boleh hilang bersama tangannya,” tegas seorang pegiat hukum yang terus mengawal kasus ini. “Kompensasi finansial untuk tubuh dan biaya pengobatan adalah hal yang penting, tetapi itu hanyalah sebagian kecil dari keadilan yang sesungguhnya. Kita harus memastikan Arumi mendapatkan dukungan psikologis yang berkelanjutan sepanjang hidupnya.”
Tuntutan Nyata: Dukungan Psikologis Berkelanjutan
Masyarakat Bima dan berbagai elemen peduli anak semakin lantang menyerukan agar aspek psikologis dalam kasus Arumi mendapatkan perhatian utama. Mereka mendesak agar pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan pihak rumah sakit, tidak hanya fokus pada penyelesaian hukum dan pemberian ganti rugi, tetapi juga menjamin akses Arumi pada terapi bermain, konseling spesialis trauma anak, dan pendampingan psikologis jangka panjang.
“Kita tidak ingin Arumi tumbuh dengan luka batin yang mendalam,” ujar seorang perwakilan organisasi masyarakat sipil. “Keadilan yang sesungguhnya adalah ketika Arumi dapat pulih secara emosional, membangun rasa percaya diri, dan menjalani hidupnya dengan baik, meskipun dengan keterbatasan fisik.”
Kawah NTB menambahkan bahwa pengawalan kasus Arumi harus menjadi momentum untuk mendorong perubahan paradigma dalam penanganan kasus-kasus медис yang berdampak pada anak-anak. Aspek psikologis korban harus menjadi pertimbangan utama dalam proses hukum dan pemberian kompensasi. Alokasi dana yang memadai untuk dukungan kesehatan mental korban harus menjadi bagian integral dari penyelesaian kasus.
Masyarakat Bersatu, Keadilan Harus Ditegakkan
Solidaritas dan dukungan terhadap Arumi terus mengalir dari berbagai penjuru. Masyarakat Bima dan netizen активно menyuarakan tuntutan keadilan melalui media sosial dengan tagar #KawalKasusArumi. Mereka tidak ingin kasus ini tenggelam dalam birokrasi atau sekadar menjadi catatan statistik kelalaian medis.
“Kita akan terus mengawal kasus ini sampai tuntas,” tegas seorang tokoh masyarakat Lambitu yang turut prihatin dengan nasib Arumi. “Keadilan untuk Arumi adalah keadilan untuk semua anak-anak di Bima. Kita tidak boleh membiarkan kejadian serupa terulang kembali.”
Kasus Arumi adalah ujian bagi komitmen penegakan hukum dan perlindungan anak di Nusa Tenggara Barat. Masyarakat menanti tindakan nyata dari pihak berwenang untuk tidak hanya menghukum pihak yang bertanggung jawab, tetapi juga memastikan Arumi mendapatkan keadilan yang utuh, keadilan yang tidak hilang bersama tangan mungilnya.






















