Bima, 3 Agustus 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Penanganan kasus kematian Sahrul Ajwari oleh Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Bima telah memasuki babak baru yang kian mengkhawatirkan. Alih-alih menunjukkan titik terang, proses hukum justru terasa semakin gelap, menempatkan nasib keadilan bagi almarhum di ujung tanduk dan mengikis kepercayaan publik hingga ke titik terendah. Tuntutan yang semakin kencang dari berbagai elemen masyarakat kini bukan lagi sekadar permohonan, melainkan sebuah peringatan keras bahwa kesabaran publik ada batasnya.
Desakan agar kasus ini diusut tuntas kembali memuncak setelah tidak ada kemajuan signifikan sejak penyelidikan dihentikan secara kontroversial. Lima rekaman CCTV yang diyakini menjadi kunci untuk membuka tabir misteri kematian Sahrul Ajwari tak kunjung dihadirkan ke publik. Sikap diam dan alasan yang dianggap tidak masuk akal dari pihak kepolisian telah mengubah persepsi dari sekadar kelalaian menjadi dugaan adanya kesengajaan untuk menutupi fakta.
“Ini bukan lagi soal prosedur, ini soal integritas,” ujar seorang aktivis dari Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB. “Ketika bukti sepenting CCTV bisa ‘hilang’ dan penyelidikan ditutup tanpa penjelasan yang memuaskan, pesan apa yang hendak disampaikan kepada masyarakat? Pesannya adalah hukum bisa dinegosiasikan, dan nyawa warga tidak ada harganya. Ini adalah preseden yang sangat berbahaya.”
Kekhawatiran terbesar kini adalah dampak sosial yang lebih luas. Kegagalan institusi penegak hukum untuk memberikan keadilan yang transparan dan akuntabel menciptakan sebuah kekosongan. Kekosongan ini, menurut para pengamat sosial, berpotensi besar diisi oleh “hukum jalanan”. Rasa frustrasi keluarga dan komunitas yang merasa dikhianati oleh sistem dapat meledak menjadi aksi main hakim sendiri, sebuah skenario yang akan menyeret Bima ke dalam konflik horizontal yang lebih sulit dikendalikan.
Sat Reskrim Polres Bima kini berada di persimpangan jalan. Pilihan mereka hanya dua: membuktikan bahwa mereka adalah pengayom masyarakat dengan membuka kembali kasus ini secara transparan, atau terus berdiam diri dan membiarkan diri mereka dicap sebagai arsitek kekacauan sosial. Tuntutan publik sudah jelas: bongkar kembali kasus Sahrul Ajwari, temukan dan buka rekaman CCTV, serta seret pelaku sebenarnya ke meja hijau. Jika tidak, Polres Bima tidak hanya akan kehilangan kepercayaan, tetapi juga berisiko menuai badai dari angin yang mereka tabur sendiri. Keadilan untuk Sahrul adalah ujian terakhir bagi marwah hukum di Bima.























