banner 728x250

BIMA DI TEPI JURANG POLITIK: Babak Baru Perang Dingin Bupati, Sekda, dan Rafidin DPRD Bima

Bima, 9 Agustus 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Setelah manuver tajam anggota DPRD Rafidin, S.Sos. berhasil menempatkan Sekda Bima dalam posisi skak, panggung politik daerah kini memasuki babak baru yang lebih berbahaya: perang dingin dan adu strategi. Isu ini telah bertransformasi dari sekadar kasus dugaan korupsi menjadi pertaruhan kekuasaan antara tiga kutub utama: Bupati Ady Mahyudi sebagai pemegang otoritas, Sekda Adel Linggiardi sebagai benteng birokrasi yang diserang, dan Rafidin sebagai representasi kekuatan legislatif yang agresif.
Publik kini menahan napas, menanti langkah catur apa yang akan dimainkan oleh masing-masing pihak. Setiap gerakan akan menentukan keseimbangan kekuasaan dan nasib pemerintahan Bima ke depan.
Langkah Catur Sang Bupati: Seni Menjinakkan Badai
Sebagai nakhoda baru, Bupati Ady Mahyudi kini berada di tengah badai yang diciptakan oleh orang lain. Posisinya paling sulit, karena setiap keputusan akan memiliki konsekuensi besar. Setidaknya ada tiga langkah strategis yang bisa ia mainkan:
Langkah Kuda (The Knight’s Move): Manuver Tak Terduga. Bupati bisa saja tidak mengikuti alur yang diinginkan Rafidin maupun mempertahankan Sekda secara membabi buta. Ia dapat membentuk Tim Pencari Fakta atau Majelis Pertimbangan Pejabat yang independen untuk mengkaji ulang kasus Sekda. Tujuannya: Mengulur waktu, mendinginkan suhu politik, dan yang terpenting, memindahkan bola panas dari tangannya ke sebuah badan formal. Ini memberinya citra sebagai pemimpin yang prosedural dan tidak gegabah, sambil memberinya ruang untuk konsolidasi kekuatan di belakang layar.
Rokade (Castling): Mengamankan Raja. Jika tekanan terlalu kuat, Bupati mungkin akan melakukan “rokade” dengan mengorbankan satu bidak untuk menyelamatkan “Raja” (pemerintahannya). Ia bisa saja menonaktifkan sementara Sekda dari jabatannya sambil menunggu proses hukum. Tujuannya: Langkah ini akan memuaskan sebagian tuntutan Rafidin dan publik, meredam isu, namun tetap memberi peluang bagi Sekda untuk membela diri tanpa mengganggu roda pemerintahan. Ini adalah langkah kompromi yang pahit.
Serangan Balik (Counter-Gambit): Ini adalah opsi paling berisiko. Bupati bisa memilih untuk secara terbuka membela Sekda dan mengabaikan seruan Rafidin. Tujuannya: Menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang kuat dan tidak bisa didikte. Namun, langkah ini akan membuka front perang terbuka dengan faksi Rafidin di DPRD, yang dapat berujung pada penjegalan program-program pemerintah di masa depan. Ini adalah pertaruhan all-in pada loyalitas birokrasi dan kekuatan politik yang ia miliki.
Langkah Catur Sang Sekda: Bertahan di Tengah Kepungan
Sebagai target utama, Sekda Adel Linggiardi tidak bisa hanya diam. Reputasi dan kariernya dipertaruhkan. Langkah bertahan yang bisa ia mainkan antara lain:
Benteng Pertahanan (The Fortress): Sekda bisa memilih untuk tidak banyak bicara di ruang publik, namun aktif bekerja di belakang layar. Ia akan fokus menunjukkan kinerjanya yang solid dan membuktikan bahwa ia adalah aset yang tak tergantikan bagi Bupati dan roda pemerintahan. Sembari itu, ia bisa menggalang dukungan senyap dari para ASN dan tokoh masyarakat yang loyal. Tujuannya: Membuktikan nilainya melampaui isu politik yang menerpanya, menjadikan Bupati berpikir dua kali untuk melepasnya.
Pion Beracun (The Poisoned Pawn): Sekda bisa melakukan perlawanan hukum atau prosedural. Ia dapat menantang keabsahan audit Inspektorat, menudingnya cacat prosedur atau sarat akan muatan politis. Tujuannya: Membalikkan serangan ke arah lawan. Jika ia berhasil membuktikan audit tersebut bermasalah, maka kredibilitas Inspektur dan Rafidin sebagai “pembela” akan hancur seketika.
Membuka Papan Catur Baru (Opening a New Board): Daripada bertahan, Sekda bisa saja “membuka” isu lain yang melibatkan lawan-lawan politiknya. Ini adalah strategi bumi hangus yang sangat berisiko, namun bisa memaksa semua pihak untuk kembali ke meja perundingan agar tidak saling membuka aib. Tujuannya: Menciptakan mutually assured destruction (saling menghancurkan) untuk memaksa gencatan senjata.
Langkah Catur Rafidin: Menjaga Momentum Serangan
Setelah berhasil melempar granat politik, tugas Rafidin sekarang adalah memastikan ledakannya maksimal. Langkah lanjutannya akan sangat menentukan:
Memajukan Bidak (Advancing the Pawns): Rafidin tidak akan membiarkan isu ini padam. Ia akan terus menjaga tekanan melalui media, menggalang dukungan dari anggota DPRD lain, dan mungkin secara resmi memanggil Bupati atau Sekda dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi I. Tujuannya: Menjaga momentum dan tidak memberikan ruang bagi Bupati untuk mengulur waktu.
Menteri Menyerang (Queen’s Attack): Jika tekanan awal diabaikan, Rafidin bisa menaikkan level serangan dengan membongkar kasus-kasus lain yang lebih besar, seperti yang pernah ia singgung terkait dana hibah atau penyimpangan oleh puluhan kepala desa. Tujuannya: Menunjukkan bahwa kasus kalender hanyalah puncak gunung es dan ia memiliki amunisi yang jauh lebih banyak untuk berperang dalam jangka panjang.
Menawarkan Jalan Keluar (Offering an Exchange): Di balik layar, Rafidin mungkin akan membuka komunikasi politik. Setelah menunjukkan kekuatannya, ia bisa menawarkan “solusi damai” versinya, misalnya Sekda digeser ke posisi lain yang terhormat namun tidak strategis, sebagai imbalan atas stabilitas politik. Tujuannya: Mencapai kemenangan politik tanpa harus menghancurkan seluruh papan catur, yang bisa berdampak buruk bagi semua pihak.
Panggung telah siap. Ketiga pemain utama kini saling mengukur kekuatan. Langkah siapa yang paling jitu dan siapa yang akan salah melangkah? Jawabannya akan menentukan wajah dan nasib perpolitikan Bima, setidaknya hingga badai mutasi benar-benar usai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *