BIMA, 13 September 2025 || Kawah NTB – Menjadi penjahat berkedok wakil rakyat ternyata memiliki resepnya. Di Kabupaten Bima, resep busuk itu diduga telah diciptakan dan disempurnakan oleh tiga pimpinan DPRD yang baru dilantik, Diah Citra Pravitasari, Murni Suciyati, dan Nasarudin. Apa yang mereka lakukan bukanlah sekadar skandal, melainkan sebuah demonstrasi langkah demi langkah tentang bagaimana cara membajak sebuah lembaga terhormat dan mengubahnya menjadi mesin kejahatan anggaran. Publik kini dipaksa menonton sebuah tutorial paling memuakkan: inilah cara menjadi Penjahat Pokir Siluman.
Langkah Pertama: Rebut Alat Kejahatan.
Bagaimana cara merampok rumah dari dalam? Tentu saja dengan merebut kunci pintunya terlebih dahulu. Inilah logika pertama dari komplotan ini. Kenaikan instan mereka ke kursi pimpinan Ketua dan dua Wakil Ketua bukanlah prestasi politik, melainkan langkah paling krusial untuk menguasai alat kejahatan utama: palu sidang dan kendali atas Badan Anggaran. Tanpa kekuasaan ini, Pokir Siluman hanyalah angan-angan. Dengan kekuasaan ini, setiap usulan haram bisa mereka ketok menjadi sah dan setiap suara kritis bisa mereka bungkam. Apakah ada tujuan lain dari perebutan kekuasaan secepat kilat ini selain untuk memuluskan agenda pribadi yang telah mereka siapkan sejak awal?
Langkah Kedua: Ciptakan Komplotan, Beli Diam Mereka.
Seorang penjahat cerdas tidak pernah bekerja sendiri. Untuk memastikan operasi Pokir Siluman berjalan mulus, tiga otak ini diduga menerapkan strategi klasik dunia kriminal, buat semua orang ikut basah. Alokasi proyek haram yang dibagikan kepada 22 anggota dewan baru lainnya bukanlah bentuk kemurahan hati, melainkan uang tutup mulut. Dengan menjadikan semua pendatang baru sebagai penerima manfaat, mereka secara efektif telah menciptakan sebuah kejahatan berjamaah. Siapa yang akan berani bersuara jika mulut mereka sudah penuh dengan kue hasil jarahan? Ini adalah cara busuk untuk mengubah potensi saksi menjadi tersangka.
Langkah Ketiga: Dapatkan Stempel dari Istana.
Rencana secerdik apapun di parlemen akan sia-sia tanpa lampu hijau dari eksekutif. Di sinilah bahan terakhir dari resep busuk ini dimasukkan: koneksi keluarga. Kehadiran Murni Suciyati, istri dari Bupati Ady Mahyudi, di jajaran pimpinan adalah jaminan tertinggi. Ini adalah kartu truf yang mengubah konspirasi di DPRD menjadi sebuah proyek yang direstui istana. Setiap negosiasi alot, setiap potensi hambatan, diduga bisa diselesaikan dengan mudah melalui jalur rumah tangga. Masihkah kita percaya bahwa ada pemisahan kekuasaan di Bima, atau semua keputusan penting kini diambil di meja makan sebuah dinasti politik yang menjadikan APBD sebagai warisan keluarga?
Kini resepnya telah terbongkar. Tiga langkah mudah untuk menjadi penjahat politik di Bima: kuasai alatnya, ciptakan komplotanmu, dan pastikan kau punya bekingan dari puncak kekuasaan. Pertanyaannya sekarang bukan lagi bagaimana caranya?, tetapi siapa yang berani menghentikannya?. Jika aparat penegak hukum tidak segera memborgol para koki dari resep busuk ini, maka jangan heran jika dapur politik Kabupaten Bima akan terus memproduksi racun yang membunuh harapan dan kesejahteraan seluruh rakyatnya.
























