BIMA, 13 September 2025 || Kawah NTB – Alih-alih memberikan klarifikasi dan data tandingan atas dugaan skandal Pokir Siluman, Istana Bima sebutan satire untuk lingkar kekuasaan Bupati Ady Mahyudi dan istrinya, Murni Suciyanti diduga memilih jalan paling memalukan, mengerahkan pasukan pemuja untuk melancarkan serangan membabi buta. Namun, alih-alih mementahkan kritik dengan argumen cerdas, serangan balik ini justru menjadi etalase kebodohan telanjang yang semakin mempermalukan sang penguasa.
Perang narasi yang dilancarkan oleh media Kawah NTB dan LBH Peduli Rakyat Indonesia (LBH-PRI) kini memasuki babak baru. Kritik berbasis argumen ilmiah dan rasional kini dilawan dengan cacian dan kalimat-kalimat serampangan yang diduga kuat berasal dari para loyalis yang digerakkan. Fenomena ini memicu reaksi keras dari paranpasukan lembaga Bantuan hukum peduli rakyat Indonesia (LBH-PRI), yang melihatnya sebagai cerminan kepemimpinan yang panik dan ringkih.
Bung Mhikel dari LBH-PRI menanggapi serangan tersebut yang sangat menusuk. “Minimal ceramahin yang benar itu anak buahnya dan pasukan pemuja mu, Bupati Bima dan Murni Suciyanti. Jangan terlalu membabi buta dan perlihatkan buta hurufnya,” cetusnya.
Ia menambahkan, “Kemampuan pasukan kalian tidak memperlihatkan wajah intelektual, tapi seolah mereka seperti tidak pernah sekolah. Peran anak bangsa itu akan bermanfaat jika menyadarkan dan mencerdaskan pemimpin bangsa, jangan jadi hulubalang yang serba mengiyakan dan tunduk pada kekuasaan, padahal kamu tahu kebenaran dan kemampuannya cukup terbatas tapi emosinya sangat keras.”
Kritik pedas juga datang dari Bung Muhlis Pleno, Dewan Penasehat Kawah NTB dan LBH-PRI, yang menyoroti ketidakbecusan Bupati Bima dan istrinya dalam menghadapi krisis kepercayaan ini.
“Terlalu bodoh mengirim pasukannya yang bukannya orang berintelektual, tapi pasukan yang dikirim untuk menangkal kritikan Kawah NTB justru yang tidak tahu berbahasa Indonesia dengan baik, apalagi berintelektual. Ini menunjukkan kualitas kepemimpinan mereka,” tegas Muhlis.
Muhlis menegaskan bahwa gerakan mereka tidak akan pernah surut dan tidak bisa dibeli. “Capaian kami bukan ruang kompromi dan negosiasi politik bagi kekuasaan saat ini. Saya sebagai Dewan Penasehat Kawah NTB dan LBH-PRI akan terus mengumandangkan perlawanan tentang sistem yang buruk yang berjalan pada unsur kelembagaan negara di Kabupaten Bima saat ini. Cara apapun yang ingin kalian tempuh untuk melemahkan gerakan kami, kami tak sedikitpun gentar!” serunya.
Sementara itu, Bung Igen Prakoso, Pembina LBH-PRI, menganalisis serangan para loyalis ini sebagai bukti kepanikan tingkat tinggi dari para elite yang menjadi target kritik. Menurutnya, para “pengecut” kini bersembunyi di balik tameng manusia yang mereka gerakkan.
“Banyak narasi pesanan untuk melemahkan gerakan LBH-PRI dan Kawah NTB. Ini mewakili keresahan tuannya yang memilih jadi pengecut. Serangan ini justru membuat kita makin semangat, karena kepanikan para pengecut sudah terbaca dengan jelas,” ungkap Bung Igen.
Pada akhirnya, pengerahan pasukan buta huruf ini menjadi bumerang paling telak. Alih-alih membungkam kritik, langkah ini justru membuka pertanyaan baru yang lebih fundamental, jika memang tidak bersalah dalam skandal Pokir Siluman, mengapa Ady Mahyudi dan Murni Suciyanti harus bersembunyi di balik serangan verbal yang tidak cerdas? Apakah ini adalah akhir dari argumentasi dan awal dari kepanikan massal di jantung kekuasaan Bima?
























