banner 728x250

APBD Bima Jadi Bancakan Keluarga: Rp 12,6 Miliar Proyek Mengalir Deras ke Kerajaan Bisnis Paman Bupati Ady Mahyudi

BIMA, 30 September 2025 || Kawah NTB – Selamat datang di Republik Keluarga Dinasti Satu Kamar di Kabupaten Bima, di mana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tampaknya telah beralih fungsi menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Dinasti. Di bawah kepemimpinan Bupati Ady Mahyudi, slogan “Bima Bermartabat” yang dulu dijual saat kampanye, kini terdegradasi menjadi “Bima Bermartabak Milik Kerabat”. Janji untuk memberdayakan pengusaha lokal hanyalah opera sabun politik, sebuah mantra peninabobokan pemilih yang kini realitasnya begitu brutal dan telanjang.

Pada saat mereka kampanye Ady-Irfan meneriakan untuk, mereka yang dulu dengan lantang berorasi akan menghidupi kontraktor kecil di pelosok desa, kini justru menjadi fasilitator utama bagi terbangunnya sebuah imperium bisnis yang dikendalikan oleh keluarga Ady Mahyudi sendiri. Bagaimana tidak? Sedikitnya delapan proyek raksasa senilai total Rp 12.624.562.000 secara ajaib jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan yang semuanya berasal dari Kota Bima.

Ini bukan kebetulan, ini adalah desain. Dan arsitek di balik desain ini diduga kuat adalah Ir. Rusdin H. Adnan, Ketua Gapensi Kota Bima, yang tak lain dan tak bukan adalah paman Bupati Ady Mahyudi sendiri. Posisi sang paman menjadi episentrum dari anomali ini. Bagaimana mungkin proses tender bisa berjalan adil jika pemenangnya sudah bisa ditebak dari silsilah keluarga penguasa? Ini bukan lagi sekadar konflik kepentingan, ini adalah peragaan nepotisme yang paling vulgar dalam sejarah Kabupaten Bima modern.

Ady Mahyudi telah mengkhianati mandat publiknya. Ia tidak sedang membangun Bima, ia sedang membangun benteng kekayaan untuk lingkarannya sendiri. Para kontraktor lokal Kabupaten Bima bukan lagi bersaing, mereka dipaksa menonton dari pinggir lapangan, menjadi anak tiri di tanahnya sendiri, menatap nanar kue pembangunan yang disantap habis oleh mereka yang punya koneksi darah dengan sang raja.

Berikut adalah bukti telanjang dari praktik yang merusak tatanan demokrasi dan ekonomi lokal ini:

  1. Nama Tender: Rehabilitasi SAB Sori Panihi SP 5 (Lanjutan). Pemenang: CV. MEGAH (Kota Bima) – Pagu: Rp 900.000.000,00
  2. Nama Tender: Rehabilitasi SAB Sori Panihi SP Pemenang: CV. ARDENSI (Kota Bima) – Pagu: Rp 900.000.000,00
  3. Nama Tender: Rehabilitasi SAB Sori Panihi SP 2 (Lanjutan). Pemenang: CV. PUTRI (Kota Bima) – Pagu: Rp 900.000.000,00
  4. Nama Tender: Perluasan SPAM Jaringan Perpipaan Desa Monggo. Pemenang: CV. PUJA BUANA INDAH (Kota Bima) – Pagu: Rp 1.001.000.000,00
  5. Nama Tender: Pembangunan SPAM Jaringan Perpipaan Desa Keli. Pemenang: CV RESTU BUNDA (Kota Bima) – Pagu: Rp 1.770.000.000,00
  6. Nama Tender: Renovasi/Penambahan Ruang Puskesmas Ngali. Pemenang: CV PUJA BUANA INDAH (Kota Bima) – Pagu: Rp 2.800.000.000,00
  7. Nama Tender: Rehabilitasi Pustu Kaowa. Pemenang: CV. BANGUN JAYA (Kota Bima) – Pagu: Rp 653.562.000,00
  8. Nama Tender: Pembangunan SPAM Jaringan Perpipaan Desa Labuan Kananga. Pemenang: CV. MEGAH (Kota Bima) – Pagu: Rp 3.500.000.000,00

Setiap rupiah dalam daftar di atas adalah tamparan keras bagi wajah para pengusaha kecil di Kabupaten Bima. Setiap nama pemenang adalah monumen pengingat bahwa di bawah rezim Ady Mahyudi, loyalitas keluarga jauh lebih berharga daripada keadilan dan pemerataan. Bau busuk nepotisme ini terlalu menyengat untuk diabaikan, dan pola ini terlalu sistematis untuk disebut sebagai ketidaksengajaan.

Ady Mahyudi kini berada di persimpangan jalan, memilih untuk menjadi Bupati bagi seluruh rakyat Bima, atau selamanya dikenang dalam sejarah sebagai kepala keluarga yang menyulap kantor bupati menjadi kantor cabang perusahaan keluarganya. Publik tidak butuh lagi janji manis, publik butuh bukti bahwa APBD adalah uang rakyat, bukan dana arisan keluarga penguasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *