banner 728x250

Kehadiran Kronologi Kematian Sahrul Ajwari dan Kehilangan Keadilan Untuknya

Bima, 11 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Pada malam takbiran Idul Adha, 5 Juni 2025, pukul 23.30, saat seharusnya gema takbir membahana,

sebuah kisah klasik tentang keadilan yang buta kembali dipentaskan di panggung negeri antah berantah.

Saksi Kunci, sebut saja R, seorang pionir sejati dalam drama ini, bersaksi tentang malam nahas bersama Sahrul Ajwari, sang almarhum yang kini namanya hanya sebatas nisan.

Mereka berdua, dengan niat mulia mengantar teman ke Desa Risa, melintasi Desa Lido.

Di sana, mereka bersua dengan sekelompok “penjaga jalan” yang berjajar rapi, bagai barisan kehormatan yang tak tahu diri.

Namun, saat itu, drama belum dimulai.

Setelah sukses mengantar kawan di Desa Renda, R dan Sahrul memutar kemudi, kembali ke Desa Soki yang damai.

Ironisnya, kedamaian itu hanya ilusi. Saat kembali melintasi Desa Lido, tepat di depan Masjid Lido yang seharusnya menjadi simbol ketenangan, mereka disambut adegan yang lebih mirip film laga murahan.

Sekelompok “aktor” berlarian, meneriakkan kode sandi nan heroik, “Ele ru de, mereka sudah mengarah ke timur!” Seolah-olah mereka baru saja menggagalkan invasi alien, para “pahlawan” ini langsung bersiaga di sisi jalan, menyisakan celah sempitsebuah jebakan tikus yang sempurna untuk motor yang sedang melaju.

Sahrul, dengan naluri bertahan hidup, memacu motornya.

R dan Sahrul menunduk, mungkin berharap takdir akan berbelok.

Namun, nasib berkata lain.

R melihat seorang pria bertubuh besar, berambut pendek keriting (mungkin hasil keritingan salon dadakan), dengan kaos putih bersih (sebelum ternoda noda dosa), memukulnya dengan baju.

Bersamaan, dari kanan, seorang “seniman” lain menghantam kepala Sahrul dengan batu.

Ya, batu keras. Bukan bantal, bukan biskuit, tapi batu keras. R menyaksikan langsung, mungkin dengan mata terbelalak tak percaya pada kebiadaban yang begitu terang-terangan.

Ketika Moralitas Diperkosa dan Kebenaran Dilucuti

Ajaibnya, motor masih melaju, mungkin karena ia tahu harus menuntaskan misi terakhirnya.

Sahrul, sang korban, terkulai di atas spidometer, tangan masih setia memegang setang sebuah loyalitas yang patut diacungi jempol, bahkan di ambang kematian.

R mencoba membangunkan, tapi tak ada respons. Motor pun melambat, lalu menyerah, jatuh di depan rumah warga bernama Bos Mi.

Entah apa filosofi di balik nama itu, tapi di situlah panggung duka dimulai.

Setelah berhasil bangkit, R mendengar kelompok “pahlawan” tadi berteriak, “Hantam! Hantam! Hantam!” sebuah mantra barbar yang diulang-ulang, seolah mereka sedang memanggil arwah haus darah.

Sebelum mereka sempat melanjutkan ritual kejamnya, seorang ibu dari penggilingan padi, dengan suara penuh kepasrahan, berteriak, “Sudah, Nak, jangan lagi, Nak.” Seketika, para “aktor” itu mengubah skenario mereka dengan lihai. “Mereka berdua itu kecelakaan,” ujar mereka, memutarbalikkan fakta dengan tingkat profesionalisme yang patut diacungi jempol jika saja mereka tidak sedang melumuri tangan dengan darah.

R kemudian menyaksikan kondisi Sahrul yang tak beraturan: kaki kanan di pijakan, kaki kiri di atas jok, dan kepala menyentuh tanah dalam kondisi luka terbuka parah.

Seorang warga perempuan, dengan lugasnya berseru, “Aduh, sudah keluar itu, itik kepalanya.”

Sebuah deskripsi yang vulgar, namun tepat menggambarkan kengerian yang tak terlukiskan.

R pun syok, terduduk, menangis, lalu mondar-mandir panik. Setelah jeda dramatis yang cukup, warga lain datang, mengantar Sahrul ke Puskesmas Ngali.

Namun, di sana, drama mencapai klimaksnya: Sahrul Ajwari dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa ini, tentu saja, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga Desa Soki. Namun, yang lebih penting, ia membangkitkan sebuah kesadaran kolektif: bahwa di negeri ini, keadilan kadang hanya menyapa mereka yang suaranya cukup keras untuk terdengar dari pinggiran. Ya, suara pinggiran yang kini meronta, mencari keadilan di tengah bisingnya ketulian. Mungkin kita harus belajar berteriak lebih kencang, agar nurani yang beku bisa sedikit terusik. Atau, mungkin memang takdirnya, keadilan di sini hanyalah mitos yang diceritakan menjelang tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *