Bima, 22 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Dari perspektif psikologi individual ala Alfred Adler, gerakan fitnah yang dilancarkan oleh oknum-oknum terhadap pengkritik jalan rusak Lambitu bukanlah sekadar kegaduhan publik. Ia adalah ekspresi paling telanjang dari satu hal: perasaan rendah diri yang dibungkus dengan sikap sombong dan agresif.
Menurut Adler, setiap tindakan manusia termasuk yang destruktif berakar pada satu tujuan utama: mencari pengakuan dan superioritas untuk mengimbangi rasa inferioritas yang terpendam.
Dan apa yang kita saksikan dalam manuver fitnah hari ini, persis menggambarkan itu.
Kenapa Mereka Menyerang Karakter, Bukan Fakta?
Karena mereka tidak punya jawaban yang bisa berdiri sendiri.
Karena substansi kerusakan jalan Lambitu terlalu terang untuk dibantah, maka medan tempur dialihkan ke hal yang paling mudah diganggu: karakter orang yang berjuang.
“Serangan pribadi adalah perisai bagi jiwa yang merasa kalah sebelum bertanding,” kata Adler.
Oknum tidak menjawab pertanyaan, “Mengapa jalan Lambitu rusak selama 20 tahun?”
Sebaliknya, mereka bertanya, “Siapa kamu yang berani mengkritik?”
Itulah logika inferior: menghindari tantangan intelektual dengan cara menggali jurang sosial.
Menurut Adler, individu yang merasa tak mampu memberi kontribusi konstruktif akan cenderung mengambil jalur destruktif. Fitnah bukan kekuatan. Fitnah adalah pelarian.
Oknum-oknum ini tidak bisa memperbaiki jalan,
tidak bisa menyusun argumen, tidak bisa berkontribusi pada solusi maka mereka menggunakan satu-satunya modal yang tersisa: kebencian terhadap suara yang bergerak.
Bung Ipul melihat manuver fitnah ini sebagai titik terang.
Karena jika kritik tentang jalan rusak sudah diganggu, berarti kritik itu telah berhasil mengguncang mereka yang selama ini nyaman dalam kesalahan.
Ia menyebut bahwa fitnah bukan penghinaan, tapi pengakuan terselubung bahwa suara rakyat mulai didengar dan ditakuti.
“Kami tahu mereka tidak bisa menjawab. Maka mereka mengalihkan pembicaraan. Tapi kami juga tahu: semakin mereka menyerang kami, semakin jelas siapa yang tidak sanggup menanggung kebenaran,” ujarnya tegas.
Di mata Adler, manusia sehat adalah manusia yang bisa berkontribusi pada sesama. Sebaliknya, mereka yang menyerang sesama hanya karena berbeda pandangan, adalah manusia yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Oknum yang sibuk menyebar fitnah adalah cermin mentalitas penguasa yang gagal: inferior, represif, dan anti-dialog.
Dan gerakan Lambitu, di sisi lain, adalah proyek mental kolektif warga sehat yang memilih untuk menjawab kemiskinan kebijakan dengan keberanian suara.








































