banner 728x250

Ketua Bim Ntb Menilai Polres Bima Gagal Pahami Keadilan Atas Kasus Sahrul Ajwari

Bima, 27 juni 2025 || kanal aspirasi dan wacana hukum (kawah) Ntb — penanganan kasus kematian sahrul ajwari yang diduga akibat tindak kekerasan terus menuai kritik tajam. ketua umum barisan intelektual muda (bim) ntb, yogi setiawan, menilai kinerja penyidik sat reskrim polres bima menunjukkan kegagalan mendasar dalam memahami nilai keadilan dan abai terhadap dampak sosial serta politik yang ditimbulkan dari kelambanan penanganan kasus ini.

“lambannya penanganan kasus ini bukan hanya soal prosedur hukum, tapi juga menunjukkan kegagalan institusi kepolisian dalam menangkap esensi keadilan sosial. mereka lupa bahwa keadilan bagi masyarakat kecil adalah fondasi utama dari stabilitas sosial dan politik,” ujar yogi setiawan.

menurutnya, penundaan investigasi yang berlarut-larut telah menciptakan ruang hampa keadilan yang diisi oleh rasa frustrasi dan kemarahan publik. hal ini, kata yogi, memiliki dampak serius, baik dari sisi sosial maupun politik.

yogi setiawan menyoroti bahwa ketidakjelasan dalam penanganan kasus ini secara signifikan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum. “ketika sebuah institusi tidak mampu memberikan kepastian hukum, masyarakat akan menganggap institusi tersebut tidak lagi relevan atau bahkan tidak dapat diandalkan. ini adalah ancaman serius bagi tatanan sosial,” jelasnya. ia menegaskan, kepercayaan adalah modal sosial paling berharga bagi polisi. begitu kepercayaan itu hilang, sulit untuk dibangun kembali.

lebih jauh, yogi melihat kasus ini berpotensi memicu konflik sosial yang lebih besar. “ketidakpuasan yang dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu. ketika masyarakat merasa suaranya tidak didengar dan keadilan diabaikan, mereka mungkin akan mencari jalan lain untuk menyuarakan protes,” ungkapnya. menurutnya, peringatan aparat agar masyarakat tidak “main hakim sendiri” menjadi tidak relevan jika aparat sendiri tidak menunjukkan keseriusan dalam menegakkan hukum. ini menciptakan dilema di mana masyarakat diwajibkan taat hukum, sementara aparat sendiri terlihat abai.

dari sisi politik, yogi memandang kasus ini bisa ditarik ke dalam ranah politik lokal, terutama menjelang tahun politik. “isu ketidakadilan bisa menjadi bahan bakar untuk mobilisasi massa dan serangan terhadap pemerintah atau aparat penegak hukum,” katanya. oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penyidik untuk segera bertindak tegas, cepat, dan transparan. “ini bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa. ini adalah ujian bagi kemampuan negara untuk melindungi warganya dan menegakkan keadilan,” pungkas yogi setiawan. “jika penegakan hukum abai, maka fondasi sosial-politik kita sedang berada dalam bahaya.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *