banner 728x250

Kronologi peristiwa Kematian Sahrul Ajwari berdasarkan Keterangan Saksi Kunci ( R)

Bima, 6 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Pada tanggal 5 Juni 2025 atau pada malam takbiran idul adhar sekitar pukul 23:30, Saksi Kunci Inisial R, sebagai teman satu boncengan almarhum (Sahrul Ajwari), menerangkan bahwa pada awalnya ia bersama almarhum (Sahrul Ajwari) pergi mengantar seorang teman dari Desa Risa. Dalam perjalanan menuju ke sana, tepat ketika melintasi Desa Lido di lokasi kejadian, mereka melihat sejumlah pemuda berjalan ke arah barat, berjajar di sisi kiri dan kanan jalan. Motor yang dikendarai bertiga melaju di tengah kerumunan tersebut, namun saat itu belum ada tindakan dari kelompok pemuda tersebut. Setibanya di Desa Renda, teman dari Desa Risa mengatakan, “Cukup sampai di sini, kawan.” Setelah itu, Saksi Kunci Inisial R dan almarhum (Sahrul Ajwari) berbalik arah menuju Desa Soki.

Ketika memasuki wilayah Desa Lido untuk kedua kalinya, tepatnya di depan Masjid Lido, mereka melihat sekelompok orang yang berlarian melewati keduanya, sambil mengatakan kepada kelompok lain yang berada di timur jalan, “Ele ru de, mereka sudah mengarah ke timur.” Kelompok di timur pun langsung bersiap di sisi kiri dan kanan jalan, hanya menyisakan sedikit ruang agar motor bisa lewat. Almarhum (Sahrul Ajwari) pun mempercepat motornya, dan begitu mendekat ke arah kerumunan tersebut, Saksi Kunci Inisial R dan almarhum (Sahrul Ajwari) menunduk.

Sebelum menunduk, Saksi Kunci Inisial R melihat seorang pria dengan ciri-ciri tinggi, bertubuh besar (mirip postur almarhum), berambut pendek dan keriting, berdiri di sisi kiri jalan dan mengenakan kaos putih. Orang tersebut memukul Saksi Kunci Inisial R dengan menggunakan bajunya. Dalam waktu bersamaan, dari sisi kanan jalan, pelaku lain menghantam kepala almarhum (Sahrul Ajwari) dengan menggunakan batu keras. Dalam posisi menunduk, Saksi Kunci Inisial R sempat melihat ke atas dan meyakini dengan jelas bahwa kepala almarhum (Sahrul Ajwari) dihantam menggunakan batu.

Setelah itu, motor masih melaju. Namun Saksi Kunci Inisial R melihat almarhum (Sahrul Ajwari) sudah terkulai ke arah spidometer motor, meskipun tangannya masih menggenggam setang. Saksi Kunci Inisial R mencoba membangunkannya dengan berkata, “Kawan, bangun kawan, kamu salah bawa motor,” namun tidak ada respons. Motor kemudian melambat hingga akhirnya terjatuh di depan rumah warga bernama Bos Mi.

Saksi Kunci Inisial R memindahkan motor tersebut karena di bagian belakangnya terdapat batu yang ikut jatuh. Setelah sempat terguling satu kali, ia langsung berdiri, dan pada saat itulah terdengar suara dari arah barat dari kelompok pelaku yang sama yang meneriakkan secara berulang, “Hantam! Hantam! Hantam!” Teriakan itu berasal dari sekelompok pelaku yang sebelumnya menghadang di jalur timur dan terlibat dalam penganiayaan.

Namun, tiba-tiba muncul seorang ibu dari arah penggilingan padi yang berkata, “Sudah, Nak, jangan lagi, Nak.” Mendengar itu, kelompok pelaku yang sebelumnya berteriak “Hantam!” langsung mengubah narasi dan menyebut kepada ibu tersebut, “Mereka berdua itu kecelakaan!” pernyataan ini keluar dari mulut kelompok pelaku yang sama, yang beberapa detik sebelumnya memprovokasi kekerasan.

Saksi Kunci Inisial R lalu melihat kembali kondisi almarhum (Sahrul Ajwari): kaki kanannya berada di pijakan pengendara, kaki kirinya terangkat di atas jok, dan kepalanya dalam posisi menyentuh tanah, mengalami luka parah dengan bagian dalam kepala terlihat. Seorang perempuan dari rumah Bos Mi berkata, “Aduh, sudah keluar itu, itik kepalanya.”

Saksi Kunci Inisial R merasa syok dan terduduk sujud seperti orang salat sambil menangis. Beberapa warga berdatangan, namun semula belum ada yang berani membantu. Dalam kondisi panik, Saksi Kunci Inisial R mondar-mandir hingga akhirnya datang seseorang yang bersedia membantu membawa almarhum (Sahrul Ajwari) ke Puskesmas Ngali.

Setibanya di Puskesmas, almarhum (Sahrul Ajwari) menghembuskan napas terakhirnya pada malam itu juga. Tragedi itu tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan sahabatnya, tetapi juga menggugah kesadaran kolektif masyarakat Desa Soki bahwa keadilan sering kali diuji justru ketika suara korban datang dari pinggiran.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *