banner 728x250

Penyelidikan Versi Polres Bima: Menunggu Kasus Sahrul Ajwari Membusuk Secara Alamiah?

Bima, 24 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Pada malam takbiran Idul Adha, 5 Juni 2025, sekitar pukul 23.30 WITA, Sahrul Ajwari, seorang pemuda dari Desa Soki, tewas secara tragis. Kronologi kejadian yang diungkapkan oleh Saksi Kunci R, teman boncengan almarhum, dengan jelas menggambarkan pembunuhan berencana, bukan sekadar kecelakaan lalu lintas. Keterangan Saksi Kunci R menjadi bukti terang benderang yang menuntut pertanggungjawaban hukum atas kematian Sahrul.

Saat Sahrul dan Saksi Kunci R kembali dari mengantar seorang teman di Desa Renda, melintasi Desa Lido untuk kedua kalinya, mereka disambut oleh sekelompok pemuda yang secara terang-terangan menunjukkan gelagat permusuhan. Perintah “Ele ru de, mereka sudah mengarah ke timur,” yang diteriakkan oleh salah satu pelaku kepada kelompok lain, adalah indikasi kuat adanya koordinasi dan niat jahat. Para pelaku kemudian berjejer di sisi kiri dan kanan jalan, sengaja menyisakan celah sempit untuk menjebak korban.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah tindakan brutal yang tak terbantahkan. Saksi Kunci R melihat seorang pria bertubuh besar, berambut pendek keriting, mengenakan kaos putih, memukulnya dengan baju. Bersamaan dengan itu, dari sisi kanan, pelaku lain dengan sengaja menghantam kepala Sahrul Ajwari dengan batu keras. Saksi Kunci R secara langsung menyaksikan momen mengerikan ini, menegaskan bahwa Sahrul menjadi target serangan langsung dan disengaja.

Setelah hantaman mematikan itu, meskipun terluka parah, Sahrul masih memegang setang motornya. Namun, tak lama kemudian ia terkulai dan motor pun terjatuh. Ironisnya, setelah korban tak berdaya, para pelaku bukannya menunjukkan rasa penyesalan, melainkan terus berteriak, “Hantam! Hantam! Hantam!” Jeritan seorang ibu dari penggilingan padi, “Sudah, Nak, jangan lagi, Nak,” lah yang menghentikan kekejaman mereka. Dengan cepat, para pelaku mengubah narasi menjadi “Mereka berdua itu kecelakaan,” sebuah kebohongan telanjang yang bertujuan untuk mengaburkan fakta dan menghindari jerat hukum.

Kondisi Sahrul Ajwari di lokasi kejadian, dengan kepala yang mengeluarkan “itik” (otak) dan luka parah, adalah bukti fisik dari kekerasan brutal yang dialaminya. Kematian Sahrul di Puskesmas Ngali adalah puncak dari serangkaian tindakan kriminal yang sistematis dan terencana.

 

Ke Mana Keadilan Berlabuh?

Sungguh sebuah ironi, atau lebih tepatnya, sebuah lelucon pahit dalam sistem peradilan kita, bahwa kasus pembunuhan Sahrul Ajwari, dengan bukti dan keterangan saksi yang begitu gamblang, masih berstatus penyelidikan sejak tanggal 7 Juni 2025 hingga hari ini, 24 Juli 2025! Sepertinya, aparat penegak hukum kita di Sat Reskrim Polres Bima memiliki definisi “penyelidikan” yang unik, sebuah proses yang entah mengapa membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk menentukan “ada tidaknya peristiwa pidana” (vide Pasal 1 butir 5 KUHAP).

Padahal, berdasarkan keterangan Saksi Kunci R yang begitu detail dan konkret, peristiwa pidana pembunuhan ini sudah sangat jelas dan terang benderang! Kita tidak sedang mencari jarum dalam tumpukan jerami; kita sedang disuguhkan gajah di tengah lapangan. Lalu, mengapa kasus ini belum juga naik ke tahap penyidikan? Tahap yang seharusnya “mencari serta mengumpulkan bukti hingga membuat terang pidananya dan menemukan tersangkanya.” Apakah perlu Sahrul bangkit dari kubur dan menunjuk langsung pelakunya agar kasus ini bisa bergerak maju?

Atau mungkin, Sat Reskrim Polres Bima sedang sibuk memformulasikan teori gravitasi baru, atau mungkin mereka sedang mencari tanda-tanda kehidupan di Mars, sehingga kasus pembunuhan berencana ini dianggap sebagai proyek sampingan yang bisa ditunda-tunda? Mengapa terkesan ada keraguan, atau bahkan pembiaran, terhadap kasus yang begitu jelas ini? Apakah keadilan di negeri ini memang hanya menyapa mereka yang suaranya cukup keras untuk terdengar dari pinggiran, sementara mereka yang berduka di Desa Soki harus menunggu entah sampai kapan?

Kelembaman ini bukan hanya mengecewakan, tetapi juga menyinggung rasa keadilan masyarakat. Ini adalah tamparan keras bagi keluarga korban yang merindukan kepastian hukum dan pertanggungjawaban atas hilangnya nyawa Sahrul Ajwari. Sudahi sandiwara “penyelidikan” yang berlarut-larut ini. Segera naikkan kasus ini ke tahap penyidikan, tangkap para pelaku, dan tegakkan keadilan demi Sahrul dan demi martabat hukum di negeri ini! Jangan biarkan kasus ini menjadi catatan kelam lain dalam tumpukan kasus-kasus tak terselesaikan, yang hanya menambah daftar panjang kekecewaan masyarakat terhadap kinerja penegak hukum.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *