BIMA, 20 Juni 2026 || Kawah NTB – Temuan Tim Panitia Khusus (Pansus) DPRD Bima dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) ke RSUD Bima membongkar realitas memalukan terkait tata kelola rumah sakit kebanggaan daerah ini. Alih-alih menjadi pusat penyembuhan yang memadai, kondisi RSUD Bima justru lebih pantas disebut sebagai monumen kelalaian manajemen.
Terdapat dua borok utama yang menjadi bukti nyata gagalnya pengelolaan rumah sakit ini:
Alat Cuci Darah Hanya Jadi Pajangan: Sangat ironis ketika alat cuci darah yang dibeli sejak dua tahun lalu justru dibiarkan mangkrak tak tersentuh. Alat krusial yang seharusnya menjadi penyambung nyawa ratusan pasien gagal ginjal ini sama sekali belum difungsikan hingga detik ini. Ini bukan sekadar lambatnya birokrasi, tetapi bentuk pengabaian hak hidup pasien dan pemborosan anggaran yang sangat keterlaluan.
Fasilitas Kumuh dan Tak Layak: Standar kebersihan dan infrastruktur RSUD Bima patut dipertanyakan keras. Plafon bocor dibiarkan begitu saja. Lebih parah lagi, instalasi pipa yang dikerjakan asal-asalan menciptakan bau menyengat yang sangat mengganggu. Belum selesai sampai di situ, selokan rumah sakit dibiarkan terbuka dan beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah sembarangan. Apakah ini rumah sakit atau tempat pembuangan akhir?
Kekacauan struktural dan operasional ini tidak terjadi dengan sendirinya. Rentetan kegagalan ini adalah tanggung jawab mutlak Direktur RSUD Bima, Hj. Ikhsan.
Sebagai pimpinan tertinggi di fasilitas kesehatan tersebut, beliau harus segera buka suara dan mengambil tindakan nyata. Publik tidak butuh janji manis atau alasan birokrasi. Direktur RSUD dituntut untuk segera membereskan kekacauan ini, memfungsikan alat medis yang mangkrak, dan merenovasi fasilitas yang tak layak.
Jika mengurus hal mendasar menyangkut nyawa dan kenyamanan masyarakat saja tidak mampu, sudah saatnya integritas dan kapabilitas kepemimpinan di RSUD Bima dievaluasi total!








































