Bima, 24 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) NTB – Memasuki hari ke-48 sejak tragedi pembunuhan Sahrul Ajwari, atau jika kita ingin lebih dramatis, hari ke-47 sejak kasus ini resmi menjadi pajangan di meja Sat Reskrim Polres Bima, nampaknya kita semua salah paham. Kita mengira tugas polisi adalah mengungkap kejahatan. Betapa naifnya! Mungkin, di Bima, tugas mereka adalah menjadi filsuf, merenungkan hakikat “peristiwa pidana” hingga lumutan. Siapa tahu, di dalam keheningan ruang penyidikan, mereka sedang menyusun disertasi doktoral berjudul: “Analisis Metafisika Niat Jahat: Studi Kasus Batu yang Menghantam Kepala di Desa Lido.”
Sementara para penyidik agung kita bertapa mencari pencerahan, Saksi Kunci R mungkin sudah menceritakan kronologi kejadian itu ratusan kali, hingga detailnya lebih terpatri di ingatan daripada lirik lagu kebangsaan. Batu yang menjadi senjata pembunuhan itu pun, jika bisa bicara, mungkin sudah berteriak, “Saya pelakunya! Atau setidaknya, saya alatnya! Arahkan saya pada tangan yang melempar saya!” Tapi apa daya, batu itu bisu, dan para penyidik tampaknya lebih tuli dari batu itu sendiri.
Atau jangan-jangan, ada alasan yang lebih logis di balik kelembaman ini. Mungkin para penyidik sedang menunggu wangsit dari langit ketujuh? Atau menunggu para pelaku, yang kini mungkin sedang tertawa-tawa sambil menyeruput kopi di warung terdekat, untuk datang menyerahkan diri dengan membawa karangan bunga dan surat permohonan maaf? Ide yang sangat mulia, tapi sayangnya, ini dunia nyata, bukan negeri dongeng di mana penjahat punya kesadaran moral yang tinggi.
Kabar burung dari lorong-lorong keadilan yang gelap berbisik, bahwa para pelaku ini bukanlah “anak kemarin sore”. Mereka punya “orang kuat” di belakangnya, sebuah tameng tak kasat mata yang membuat hukum menjadi tumpul dan impoten. Jika ini benar, maka kasus Sahrul Ajwari bukan lagi sekadar tragedi pembunuhan, melainkan sebuah pertunjukan opera sabun yang menjijikkan, di mana keadilan diperdagangkan seperti komoditas di pasar. Polres Bima seolah sedang berkata kepada kita semua: “Sabar, ya. Keadilan sedang dinegosiasikan. Mohon jangan mengganggu.”
Keluarga Sahrul di Desa Soki tidak butuh negosiasi. Mereka tidak butuh penyelidikan yang berjalan secepat siput mabuk. Mereka butuh jawaban. Mereka butuh melihat para pembunuh anak mereka diseret ke pengadilan, bukan dibiarkan bebas menghirup udara yang sama. Setiap fajar yang terbit tanpa kejelasan adalah sayatan baru di luka mereka yang menganga.
Jadi, untuk Sat Reskrim Polres Bima, sudahi komedi ini. Berhentilah berpura-pura sibuk menelaah berkas yang isinya sudah lebih jelas dari sinar matahari di padang pasir. Jika KUHAP adalah kitab suci Anda, maka gunakanlah pasalnya untuk bertindak, bukan untuk bersembunyi. Tangkap para pelaku itu! Atau jika Anda memang sudah angkat tangan, kibarkan bendera putih secara resmi. Biarkan masyarakat tahu bahwa di Bima, nyawa seorang pemuda desa lebih murah dari harga sebuah penyelidikan yang tak berujung. Biarkan kasus ini menjadi monumen abadi kegagalan Anda dalam menegakkan panji-panji keadilan.








































