banner 728x250

Penanganan Kasus Kematian Sahrul Ajwari dalam Cermin Psikologi Sosial

Bima, 9 Juli 2025 || Kanal Aspirasi dan Wacana Hukum (Kawah) Ntb – Kasus kematian Sahrul Ajwari, remaja 16 tahun yang tewas tragis di Desa Lido, kini memasuki babak psikologis yang menggambarkan bukan hanya gagalnya fungsi penegakan hukum, melainkan juga potret kolektif dari gejala sosial yang disebut para ahli sebagai efek bystander, atau efek penonton.

Menurut psikolog sosial, efek ini muncul saat terlalu banyak orang menyaksikan ketidakadilan, tapi tak satupun merasa cukup bertanggung jawab untuk bertindak karena semua berharap orang lain yang akan bergerak terlebih dahulu. Dalam kasus Sahrul, ternyata efek ini menjangkiti bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga institusi hukum itu sendiri.

“Penyidik tampaknya menganut prinsip ‘jika tak ada yang menyebut pelaku, maka tak ada kejahatan’. Ini bukan logika hukum, ini game of silence kolektif yang diperhalus dengan kop surat resmi,”

Salah satu temuan utama dalam psikologi sosial adalah the illusion of normalcy keyakinan bahwa jika semua diam, maka semuanya baik-baik saja. Polres Bima terlihat mempraktikkan ini dengan elegan: tidak bergerak, tidak menjawab, tidak salah. Dalam ketiadaan tindakan, mereka menemukan keamanan administratif.

“Masyarakat teriak, keluarga menangis, publik marah. Tapi karena pelaku belum disebut, maka sistem merasa ‘belum saatnya bergerak’. Ini bukan prosedur ini psikologi penghindaran tanggung jawab yang dilembagakan.”

Konsep diffusion of responsibility menjelaskan mengapa aparat sering enggan mengambil tindakan tanpa ‘kejelasan absolut’. Dalam struktur birokrasi, tanggung jawab menjadi cair, mengalir ke arah yang paling aman: diam.

“Setiap lembaga menyatakan bahwa mereka menunggu data dari pihak lain. Ini seperti pertunjukan orkestra tanpa konduktor, tapi masing-masing pemain tetap merasa sudah ikut tampil,” ujar pakar komunikasi publik dari Universitas Hasanuddin.

Pernyataan “kami prihatin” menjadi mantera yang terus diulang, tanpa langkah konkret. Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai empathy simulation sebuah bentuk keprihatinan palsu yang cukup untuk meredam tekanan moral, tanpa benar-benar melakukan sesuatu.

“Mereka bilang prihatin, tapi tidak mengubah situasi. Ini seperti ikut berkabung lewat ucapan duka, tapi sembari mematikan lilin keadilan,” kritik Bung Adul dengan satire khasnya.

Jika dilihat dari sudut pandang psikologi sosial, kasus Sahrul Ajwari bukan hanya soal siapa pelakunya, tetapi soal siapa yang membiarkan sistem gagal berkali-kali dengan rasa aman. Ketika penyidik menunggu instruksi, saksi diminta jadi detektif, dan masyarakat hanya diajak menonton maka tragedi Sahrul menjadi efek domino dari sistem yang kehilangan rasa bersalah.

Satu nyawa hilang. Tapi lebih dari itu, kepekaan kolektif juga ikut terkikis. Jika kita terus mengandalkan rasa prihatin tanpa rasa tanggung jawab, maka kasus seperti ini akan terus lahir bukan karena pelaku terlalu kuat, tapi karena masyarakat terlalu biasa melihat ketidakadilan tanpa bertindak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *